RS Satria Medika – Stanford University pertama kali mengenalkan istilah Duck Syndrome. Kondisi ini menggambarkan seseorang yang terlihat tenang di luar, tetapi mengalami tekanan besar di dalam dirinya.
Istilah tersebut memakai analogi seekor bebek di atas air. Bebek terlihat santai di permukaan, namun kakinya terus bergerak keras di bawah air.
Fenomena ini sering muncul pada lingkungan yang penuh persaingan. Banyak orang berusaha terlihat baik-baik saja meski sebenarnya merasa lelah secara mental.
“Baca Juga: Menkes Ungkap Warna Dahak yang Jadi Tanda TBC“
Duck Syndrome Sering Tersembunyi di Balik Kesuksesan
Dokter spesialis kejiwaan Elli Misnawati menjelaskan ciri umum Duck Syndrome.
Menurut dr. Elli, seseorang dengan kondisi ini biasanya terlihat tenang dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, mereka sering memiliki prestasi yang baik. Sebagian orang bahkan terlihat memiliki kehidupan yang sempurna.
Namun, kondisi sebenarnya berbeda dari penampilan luar mereka. Banyak penderita menyimpan tekanan emosional dan rasa cemas secara diam-diam.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung, gangguan mental dapat muncul di kemudian hari.
Penderita Duck Syndrome Sangat Kompetitif
Dr. Elli menjelaskan bahwa penderita Duck Syndrome biasanya memiliki sifat sangat kompetitif.
Mereka selalu ingin tampil lebih baik dibanding orang lain. Karena itu, mereka terus mencari pengakuan dari lingkungan sekitar.
Selain itu, mereka sering berusaha menjaga citra diri agar terlihat sempurna di depan publik.
Tekanan tersebut membuat mereka sulit merasa puas terhadap diri sendiri.
Rasa Cemas Sering Muncul Diam-Diam
Duck Syndrome juga memunculkan rasa cemas yang cukup kuat.
Dr. Elli mengatakan penderita sering merasa khawatir, sedih, dan tidak nyaman saat melihat pencapaian orang lain.
Mereka sering membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain. Akibatnya, rasa percaya diri mereka perlahan menurun.
Selain itu, media sosial sering memperburuk kondisi tersebut. Banyak orang melihat kehidupan orang lain tampak lebih bahagia dan sukses.
Karena itu, tekanan mental semakin meningkat tanpa disadari.
Penderita Mudah Mengalami Lelah Berkepanjangan
Duck Syndrome juga membuat seseorang merasa lelah dalam waktu lama.
Penderita terus berusaha memenuhi ekspektasi dari lingkungan sekitar. Mereka ingin menjaga penampilan agar tetap terlihat kuat dan sukses.
Namun, tekanan tersebut menguras energi emosional dan mental mereka.
Akibatnya, tubuh dan pikiran menjadi mudah lelah meski aktivitas terlihat normal.
Penting untuk Mengenali Kondisi Diri
Duck Syndrome dapat terjadi pada siapa saja. Kondisi ini sering muncul dalam lingkungan sekolah, pekerjaan, maupun pertemanan.
Karena itu, setiap orang perlu lebih peka terhadap kondisi mental diri sendiri.
Tidak semua orang harus selalu terlihat kuat setiap saat. Seseorang juga berhak merasa lelah dan tidak baik-baik saja.
Mengurangi penggunaan media sosial dapat membantu menenangkan pikiran. Selain itu, istirahat yang cukup juga penting untuk menjaga kesehatan mental.
Jika tekanan emosional mulai terasa berat, seseorang sebaiknya mencari bantuan profesional agar kondisi tidak semakin memburuk.