RS Satria Medika – Ketika membahas penyakit jantung, banyak orang langsung memikirkan olahraga, merokok, dan pola makan. Namun, ukuran lingkar paha juga mendapat perhatian dalam penelitian kesehatan.
Dokter dan edukator kesehatan Adam Prabata membahas temuan tersebut melalui akun Instagram miliknya. Ia mengutip penelitian berjudul Thigh Circumference and Risk of All-Cause, Cardiovascular and Cerebrovascular Mortality.
Penelitian tersebut menemukan hubungan antara ukuran lingkar paha dan risiko kematian. Namun, temuan tersebut tidak berarti ukuran paha secara langsung menyebabkan atau mencegah penyakit jantung.
“Baca Juga: Rutin Minum Teh, Ini 5 Manfaatnya bagi Kesehatan“
Lingkar Paha Lebih Besar Dikaitkan dengan Risiko Lebih Rendah
Menurut Adam, penelitian tersebut menemukan hubungan antara kenaikan lingkar paha dan risiko kematian akibat penyakit jantung.
Setiap kenaikan satu sentimeter lingkar paha berkaitan dengan penurunan risiko sekitar lima hingga enam persen. Temuan tersebut menunjukkan hubungan statistik dalam kelompok penelitian.
Namun, masyarakat tidak boleh mengartikan hasil tersebut sebagai jaminan kesehatan jantung. Ukuran paha dapat mencerminkan faktor kesehatan lain yang juga memengaruhi risiko penyakit.
Karena itu, lingkar paha sebaiknya tidak menjadi satu-satunya indikator kesehatan seseorang.
Paha Kecil Bisa Mencerminkan Massa Otot Lebih Rendah
Adam menyebut penelitian tersebut menemukan risiko lebih tinggi pada orang dengan lingkar paha kecil. Ia menggunakan kisaran sekitar 55 hingga 60 sentimeter sebagai contoh.
Namun, ukuran tersebut tidak bisa menjadi batas kesehatan untuk semua orang. Tinggi badan, jenis kelamin, usia, dan komposisi tubuh dapat memengaruhi ukuran paha.
Selain itu, lingkar paha tidak hanya menunjukkan jumlah lemak atau jaringan tubuh. Massa otot juga dapat memberikan kontribusi besar terhadap ukuran tersebut.
Karena itu, seseorang tidak perlu mengejar lingkar paha tertentu tanpa memahami kondisi tubuhnya.
Massa Otot Berperan dalam Kesehatan Tubuh
Adam menjelaskan bahwa massa otot paha dapat mencerminkan kondisi otot tubuh secara keseluruhan. Massa otot yang baik juga dapat berkaitan dengan fungsi metabolisme yang lebih sehat.
Selain itu, massa otot dapat membantu seseorang mempertahankan kekuatan fisik saat memasuki usia lanjut. Cadangan fisik yang lebih baik juga dapat membantu seseorang menjalani aktivitas harian.
Namun, penelitian observasional hanya menunjukkan hubungan antara variabel. Penelitian tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa menambah lingkar paha akan menurunkan risiko penyakit jantung.
Karena itu, masyarakat perlu memahami konteks penelitian sebelum mengambil kesimpulan.
Olahraga Tetap Penting untuk Kesehatan Jantung
Temuan tersebut dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan aktivitas fisik. Latihan kekuatan juga dapat membantu membangun dan mempertahankan massa otot.
Selain melatih otot paha, masyarakat perlu menjaga pola hidup secara menyeluruh. Aktivitas fisik rutin, pola makan seimbang, tidur cukup, dan tidak merokok tetap penting.
Pemeriksaan kesehatan juga dapat membantu seseorang mengetahui tekanan darah dan kadar kolesterol. Dokter dapat memberikan saran sesuai kondisi dan faktor risiko setiap orang.
Jadi, lingkar paha memang menarik perhatian dalam penelitian kesehatan. Namun, masyarakat sebaiknya tidak menjadikannya sebagai satu-satunya patokan kesehatan jantung.
“Baca Juga: Seksomnia: Penyebab, Gejala, dan Cara Menanganinya“