RS Satria Medika – Apakah Anda lebih suka bangun pagi atau beraktivitas hingga larut malam? Banyak orang mengenal dua pola tersebut sebagai early bird dan night owl.
Selama ini, banyak orang menganggap bangun pagi sebagai kunci produktivitas. Bahkan, sebagian orang percaya bangun pukul 5 pagi dapat membuat aktivitas harian lebih efektif.
Namun, tubuh setiap orang memiliki pola tidur yang berbeda. Karena itu, kebiasaan bangun pagi belum tentu memberikan manfaat yang sama bagi semua orang.
Ilmuwan saraf dan penulis Rachel Barr menjelaskan bahwa tubuh memiliki sistem waktu internal. Sistem tersebut membantu tubuh mengatur rasa kantuk, lapar, kewaspadaan, dan produktivitas.
“Baca Juga: Dokter AI Palsu di YouTube, Ancaman bagi Kesehatan“
Ritme Tubuh Menentukan Waktu Produktif
Menurut Barr, waktu membunyikan alarm bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesiapan tubuh untuk beraktivitas.
Tubuh memiliki ritme harian yang mengatur berbagai fungsi penting. Ritme tersebut juga membantu menentukan kapan seseorang merasa mengantuk atau paling waspada.
Karena itu, seseorang belum tentu langsung produktif setelah bangun pukul 5 pagi. Kondisi tubuh saat bangun juga memengaruhi kemampuan seseorang menjalankan aktivitas.
Selain itu, kebutuhan tidur setiap orang juga berbeda. Seseorang dapat merasa segar setelah bangun pagi, sedangkan orang lain membutuhkan waktu lebih lama.
Faktor Genetik Dapat Memengaruhi Pola Tidur
Selain ritme tubuh, faktor genetik juga dapat memengaruhi waktu tidur seseorang.
Barr menjelaskan bahwa orang dengan kecenderungan night owl biasanya tidur dan bangun lebih lambat. Kondisi tersebut membuat jadwal bangun pukul 5 pagi terasa lebih sulit.
Bagi sebagian orang, waktu malam justru menjadi periode ketika tubuh lebih aktif. Mereka juga dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lebih baik pada waktu tersebut.
Karena itu, memaksakan jadwal bangun terlalu pagi dapat mengurangi waktu tidur seseorang. Kondisi tersebut dapat menjadi masalah jika seseorang belum mendapatkan waktu tidur yang cukup.
Bangun Terlalu Pagi Bisa Mengurangi Tidur REM
Tidur berlangsung melalui beberapa tahap yang terus berulang sepanjang malam. Salah satu tahap tersebut adalah tidur REM.
Tidur REM memiliki peran penting dalam berbagai proses otak. Tahap tersebut juga berkaitan dengan pengolahan emosi dan pengalaman seseorang.
Barr menjelaskan bahwa seseorang dapat kehilangan sebagian waktu tidur REM jika bangun terlalu pagi. Kondisi tersebut terutama terjadi ketika seseorang belum memenuhi kebutuhan tidurnya.
Dengan demikian, bangun pukul 5 pagi tidak otomatis membuat seseorang lebih produktif. Kebiasaan tersebut justru dapat mengganggu kualitas tidur jika seseorang memaksakan jadwal tersebut.
Pengalaman Barr Menunjukkan Pentingnya Mengenali Tubuh
Barr mengaku pernah mencoba bangun sangat pagi meskipun dirinya mengalami kesulitan tidur.
Ia kemudian menjalani tes genetik untuk mengetahui kecenderungan pola tidurnya. Hasil tes tersebut menunjukkan bahwa Barr memiliki kecenderungan sebagai night owl.
Setelah mengetahui kondisi tersebut, Barr mulai menyesuaikan jadwal tidurnya. Ia kemudian merasa lebih nyaman ketika mengikuti pola tidur yang sesuai dengan tubuhnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa setiap orang dapat memiliki kebutuhan tidur yang berbeda. Karena itu, seseorang perlu memperhatikan kondisi tubuh sebelum mengikuti tren bangun pagi.
Produktivitas Tidak Hanya Bergantung pada Jam Bangun
Bangun pukul 5 pagi memang dapat membantu sebagian orang memulai aktivitas lebih awal. Namun, kebiasaan tersebut tidak berlaku sama bagi semua orang.
Sebaliknya, orang dengan kecenderungan night owl mungkin lebih nyaman menjalankan aktivitas pada malam hari.
Karena itu, kualitas dan kecukupan tidur tetap menjadi hal penting. Seseorang sebaiknya mencari jadwal tidur yang membuat tubuh tetap segar dan mampu beraktivitas dengan baik.
Dengan demikian, produktivitas tidak hanya bergantung pada seberapa pagi seseorang bangun. Produktivitas juga bergantung pada kualitas tidur dan kesesuaian jadwal dengan kebutuhan tubuh.
“Baca Juga: Sering Cat Rambut dan Risiko Kanker Payudara, Ini Faktanya“