Dokter AI Palsu di YouTube, Ancaman bagi Kesehatan

RS Satria Medika – Saluran dokter palsu berbasis kecerdasan buatan atau AI semakin banyak muncul di YouTube. Kontennya menggunakan avatar yang menyerupai tenaga medis sungguhan.

Salah satu saluran menggunakan nama dr. Nadia Permatasari. Saluran tersebut membahas berbagai masalah kesehatan, termasuk kesehatan seksual pria.

Dalam salah satu video berdurasi 15 menit, avatar Nadia membahas penurunan stamina pria berusia di atas 40 tahun. Video itu juga menyarankan konsumsi delima, alpukat, pisang, jahe, dan bawang putih.

Video tersebut tayang pada 3 Juni 2026. Hingga 13 September 2026, video itu mengumpulkan sekitar 1.200 penonton.

“Baca Juga: Sudah Cukup Minum tapi Masih Sembelit? Ini Penyebabnya“

Sosok Dokter Ternyata Menggunakan Avatar AI

Video tersebut menampilkan seorang perempuan berjilbab dengan jas putih. Avatar itu juga berbicara menggunakan bahasa Indonesia.

Sosok tersebut mengaku sebagai dokter spesialis urologi dengan pengalaman selama 15 tahun. Namun, penelusuran data tenaga kesehatan menunjukkan informasi berbeda.

Pemeriksaan pada basis data Konsil Kesehatan Indonesia tidak menemukan dokter spesialis urologi bernama Nadia Permatasari.

Karena itu, Tim Cek Fakta Tempo menyimpulkan bahwa sosok tersebut merupakan avatar hasil teknologi AI.

Saluran tersebut bergabung dengan YouTube pada 13 Desember 2025. Hingga kini, saluran itu telah mengunggah 116 video kesehatan.

Seluruh konten tersebut telah menghasilkan lebih dari 1,5 juta tayangan. Saluran itu juga memiliki sekitar 2.020 pelanggan.

Puluhan Saluran Dokter AI Muncul di YouTube

Tempo menelusuri 35 saluran dokter AI berdasarkan daftar Maldita.es. Organisasi pemeriksa fakta asal Spanyol itu meneliti sekitar 1.000 saluran dokter AI.

Tempo kemudian menganalisis kembali data tersebut secara manual. Tempo juga menggunakan Claude.ai untuk melihat pola produksi dan perkembangan saluran.

Analisis tersebut mencakup waktu pembuatan akun, jumlah video, layanan, serta jumlah penonton. Tempo juga berbicara dengan sejumlah pakar kesehatan dan teknologi.

Hasil analisis menunjukkan 35 saluran tersebut telah mengunggah 3.856 video kesehatan. Seluruh video itu menghasilkan sekitar 102,4 juta tayangan.

Jumlah pelanggan seluruh saluran tersebut mencapai sekitar 1,48 juta akun. Angka tersebut menunjukkan jangkauan konten yang cukup besar.

Saluran Baru Mendominasi Perkembangan Konten

Sebanyak 22 dari 35 saluran tersebut muncul pada 2025 hingga 2026. Jumlah itu meningkat sekitar 63 persen dibandingkan saluran lama.

Namun, beberapa saluran lama juga mulai mengunggah konten dokter AI. Contohnya mencakup saluran dr. Lestari Mahadewi dan dr. Rendra Mahayuda.

Lima saluran paling produktif menghasilkan sekitar 1.925 video. Jumlah tersebut mencapai hampir separuh seluruh konten dari 35 saluran.

Saluran 7 Menit Menuju Sehat menjadi salah satu contoh dengan aktivitas tinggi. Dan Saluran tersebut mengunggah 535 video sejak April 2026.

Saluran itu juga memiliki sekitar 212 ribu pelanggan. Kontennya terutama membahas berbagai panduan kesehatan untuk lansia.

Sementara itu, saluran Lansia Sehat Bahagia mengunggah 391 video. Saluran tersebut meraih sekitar 36,9 juta tayangan.

Sejumlah Saluran Menawarkan Produk dan Konsultasi

Beberapa saluran dokter AI tidak hanya mengandalkan video kesehatan. Mereka juga menawarkan layanan konsultasi kepada penonton.

Saluran Hidup Sehat 60+ | Agus Pratama, misalnya, menawarkan konsultasi langsung. Layanan tersebut kemudian mengarahkan pengguna kepada produk suplemen tertentu.

Produk tersebut berasal dari sebuah merek asal Vietnam. Kondisi tersebut menunjukkan adanya potensi hubungan antara konten kesehatan dan aktivitas komersial.

Selain itu, beberapa saluran juga mengikuti program monetisasi YouTube. Contohnya mencakup HealthyMindHealthyLifeID dan BicaraKesehatan.

Dokter Temukan Klaim Kesehatan yang Tidak Akurat

Tempo juga memeriksa sejumlah klaim kesehatan bersama dokter spesialis. Hasil pemeriksaan menunjukkan beberapa klaim tidak memiliki dasar medis yang kuat.

Salah satu klaim menyebut mandi pagi berbahaya bagi lansia. Dokter spesialis penyakit dalam Zubairi Djoerban membantah klaim tersebut.

Menurut Zubairi, lansia tetap dapat mandi pada pagi hari. Ia menyarankan penggunaan air hangat atau suam-suam kuku.

Durasi mandi juga sebaiknya tidak terlalu lama. Zubairi menyarankan durasi sekitar lima hingga sepuluh menit.

Dokter spesialis penyakit dalam Ika Fitriana juga menyampaikan pandangan serupa. Menurut Ika, belum ada bukti yang menghubungkan waktu mandi pagi dengan masalah kesehatan lansia.

Ika justru menyoroti paparan suhu ekstrem sebagai risiko. Lansia memiliki lapisan lemak kulit yang cenderung lebih tipis.

Minyak Kayu Putih Tidak Terbukti Memicu Penyakit Paru

Konten dokter AI juga mengaitkan penggunaan minyak kayu putih dengan penyakit paru kronis. Ika Fitriana menyatakan belum ada penelitian yang membuktikan klaim tersebut.

Menurut Ika, penggunaan minyak kayu putih untuk menghangatkan tubuh relatif aman. Namun, masyarakat tetap perlu memperhatikan kondisi kulit.

Zubairi juga menyebut minyak kayu putih dapat membantu meredakan hidung tersumbat. Minyak tersebut juga dapat membantu mengurangi rasa pegal.

Namun, pengguna perlu mengikuti aturan pemakaian. Mereka tidak boleh menelan minyak kayu putih secara langsung.

Pengguna juga perlu menghindari area wajah dalam kondisi tertentu. Kelompok dengan kondisi kesehatan tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis.

AI Memperbesar Risiko Disinformasi Kesehatan

Associate Professor Kesehatan Masyarakat Monash University Indonesia, Grace Wangge, menyoroti perkembangan masalah tersebut.

Menurut Grace, teknologi AI dapat membuat informasi kesehatan palsu terlihat semakin meyakinkan. Avatar yang menyerupai dokter dapat meningkatkan kepercayaan penonton.

Grace juga menilai motif komersial dapat mendorong penyebaran informasi kesehatan yang keliru. Pelaku dapat memanfaatkan kekhawatiran atau kebutuhan pasien untuk menjual produk.

Karena itu, masyarakat perlu memeriksa identitas tenaga medis sebelum mempercayai informasi. Masyarakat dapat menggunakan basis data resmi Konsil Kesehatan Indonesia.

Masyarakat Perlu Memeriksa Informasi Sebelum Mengikuti Saran

Dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta, Mohammad Adib Khumaidi, turut menyoroti masalah tersebut.

Menurut Adib, teknologi AI mempermudah pembuatan konten kesehatan dalam jumlah besar. Kondisi itu dapat meningkatkan risiko masyarakat menerima informasi yang belum teruji.

Karena itu, masyarakat perlu memeriksa sumber informasi sebelum mengikuti saran kesehatan. Masyarakat juga perlu mengecek identitas dokter yang muncul dalam konten.

Selain itu, masyarakat sebaiknya tidak langsung membeli produk berdasarkan rekomendasi avatar AI. Konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap menjadi langkah penting.

Dengan demikian, perkembangan AI membutuhkan literasi kesehatan yang semakin kuat. Pemerintah, platform digital, tenaga medis, dan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap konten kesehatan palsu.

“Baca Juga: Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung“

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *