Asap Karhutla Ganggu Paru dan Picu Risiko Pneumonia

RS Satria Medika – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kembali menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini juga meningkatkan keluhan gangguan pernapasan masyarakat.

Namun, banyak orang masih mempertanyakan hubungan asap dengan pneumonia. Asap memang bukan bakteri atau virus penyebab infeksi.

Dokter Spesialis Paru Prof. Erlina Burhan menjelaskan hubungan tersebut melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Ia menyoroti dampak asap terhadap sistem pertahanan alami paru-paru.

Menurut Prof. Erlina, partikel asap dapat mengganggu pertahanan paru. Kondisi tersebut kemudian memberi peluang bagi kuman untuk berkembang.

“Baca Juga: Wellness in Motion Ajak Perempuan Jalani Hidup Sehat“

Pneumonia Menyerang Kantong Udara Paru

Pneumonia merupakan infeksi yang menyerang kantong udara di dalam paru-paru. Infeksi tersebut membuat kantong udara terisi cairan atau nanah.

Akibatnya, paru-paru mengalami gangguan saat melakukan pertukaran oksigen. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang mengalami sesak napas.

Bakteri dan virus dapat memicu pneumonia. Bakteri pneumokokus dan virus influenza termasuk beberapa penyebab infeksi tersebut.

Namun, asap dapat meningkatkan risiko infeksi melalui mekanisme berbeda. Asap mengandung partikel sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru.

Partikel PM2.5 Menembus Pertahanan Saluran Napas

Prof. Erlina menjelaskan bahwa asap mengandung partikel halus bernama PM2.5. Ukuran partikel tersebut sekitar 30 kali lebih kecil daripada sehelai rambut.

Karena ukurannya sangat kecil, PM2.5 dapat melewati penyaringan alami hidung. Partikel tersebut kemudian dapat mencapai bagian dalam paru-paru.

Selain itu, partikel asap membawa berbagai zat beracun. Zat tersebut dapat mengganggu dan merusak sel paru-paru.

Tubuh sebenarnya memiliki sistem pertahanan untuk melawan kotoran dan kuman. Namun, paparan asap dapat mengganggu sistem tersebut.

Asap Mengganggu Silia sebagai Pelindung Paru

Pertama, asap dapat mengganggu fungsi silia pada saluran pernapasan. Silia merupakan rambut halus yang membantu membersihkan lendir dan kotoran.

Silia bekerja dengan menggerakkan lendir menuju bagian luar saluran pernapasan. Mekanisme tersebut membantu tubuh membuang kotoran dan kuman.

Namun, paparan asap dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan. Kondisi tersebut kemudian membuat kerja silia melemah.

Akibatnya, kuman dapat bertahan lebih lama di dalam saluran pernapasan. Kondisi ini kemudian meningkatkan peluang terjadinya infeksi.

Asap Juga Melemahkan Makrofag

Selain silia, paru-paru memiliki makrofag sebagai bagian dari pertahanan tubuh. Sel tersebut membantu menangkap dan menghancurkan kuman yang masuk.

Namun, zat beracun dari partikel asap dapat mengurangi kemampuan makrofag. Akibatnya, sel tersebut tidak bekerja secara optimal dalam melawan kuman.

Ketika silia dan makrofag mengalami gangguan, pertahanan paru ikut melemah. Kuman kemudian memiliki peluang lebih besar untuk berkembang.

Karena itu, asap tidak secara langsung menjadi penyebab pneumonia. Asap justru dapat merusak pertahanan paru dan mempermudah kuman menyebabkan infeksi.

Anak-anak dan Lansia Menghadapi Risiko Lebih Tinggi

Paparan kabut asap tidak memberikan dampak yang sama kepada setiap orang. Beberapa kelompok menghadapi risiko gangguan kesehatan yang lebih besar.

Anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus. Orang dengan asma, PPOK, atau penyakit jantung juga menghadapi risiko lebih tinggi.

Kelompok tersebut memiliki kemampuan paru yang lebih terbatas. Karena itu, gangguan akibat asap dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.

Masyarakat perlu mengurangi paparan kabut asap ketika kualitas udara memburuk. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi gangguan pernapasan dan risiko infeksi.

“Baca Juga: Sinusitis Kambuh Bisa Berbahaya, Kenali Risikonya“

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *