Medicalnews – Polusi udara dapat menimbulkan gangguan kesehatan dalam jangka pendek dan panjang. Dampaknya bahkan dapat memengaruhi perkembangan paru-paru anak sejak dalam kandungan.
Dokter spesialis paru Prof. Erlina Burhan membahas temuan tersebut melalui unggahan Instagram. Ia mengutip penelitian di Inggris yang mengamati perkembangan paru sejak masa kanak-kanak.
Penelitian tersebut menunjukkan hubungan antara paparan polusi sejak dini dan perkembangan paru yang lebih lambat. Dampaknya juga dapat bertahan hingga seseorang memasuki usia dewasa awal.
“Baca Juga: Lingkar Paha dan Risiko Jantung, Apa Kata Penelitian?“
Paparan Polusi Dapat Hambat Pertumbuhan Paru
Menurut Prof. Erlina, polusi dapat menghambat perkembangan kapasitas paru anak. Kondisi tersebut membuat paru tidak tumbuh optimal mengikuti pertambahan usia.
Kapasitas paru membantu tubuh menampung dan mengalirkan udara. Jika perkembangannya melambat, fungsi paru dapat mencapai kemampuan maksimal lebih lambat.
Namun, hasil penelitian tidak berarti semua anak akan mengalami gangguan yang sama. Faktor lingkungan dan kondisi kesehatan setiap anak juga dapat memengaruhi perkembangan paru.
Masa Remaja Menjadi Periode Penting
Penelitian tersebut mengamati lebih dari 5.000 orang yang lahir di Bristol pada era 1990-an. Peneliti mengikuti perkembangan fungsi paru peserta hingga mereka mencapai usia 24 tahun.
Usia tersebut menjadi periode penting karena fungsi paru umumnya mencapai tingkat maksimal. Setelah itu, pertumbuhan fungsi paru biasanya tidak lagi meningkat secara signifikan.
Dari pemantauan panjang tersebut, peneliti menemukan masa remaja sebagai periode yang sangat penting. Pada fase tersebut, paru mengalami pertumbuhan yang cukup pesat.
Karena itu, paparan polusi yang lebih tinggi sejak dini dapat meningkatkan risiko gangguan perkembangan paru. Anak perlu mendapatkan lingkungan dengan kualitas udara yang lebih baik selama masa pertumbuhan.
Orang Tua Perlu Perhatikan Kualitas Udara
Prof. Erlina menilai temuan tersebut relevan bagi keluarga yang tinggal di kota dengan polusi tinggi. Jakarta menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian terkait kualitas udara.
Orang tua dapat mengambil beberapa langkah sederhana untuk mengurangi paparan polusi. Langkah tersebut dapat membantu anak mengurangi kontak dengan udara tercemar.
Namun, orang tua juga perlu memahami kondisi udara sebelum menentukan aktivitas anak. Informasi kualitas udara dapat membantu keluarga mengatur waktu bermain atau berolahraga.
Cara Mengurangi Paparan Polusi pada Anak
Pertama, orang tua dapat membatasi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Langkah tersebut membantu mengurangi jumlah polutan yang anak hirup.
Selanjutnya, orang tua dapat memberikan masker yang sesuai ketika anak harus beraktivitas di luar. Masker dapat membantu mengurangi paparan partikel tertentu dari udara.
Selain itu, keluarga perlu menjaga kualitas udara di dalam rumah. Sirkulasi yang baik dan pengelolaan sumber polusi dapat membantu menciptakan lingkungan lebih sehat.
Orang tua juga perlu menghindari asap rokok di sekitar anak. Asap rokok dapat menambah paparan zat berbahaya bagi sistem pernapasan.
Lindungi Paru Anak Sejak Dini
Temuan penelitian tersebut menunjukkan pentingnya menjaga kualitas udara selama masa pertumbuhan. Perlindungan perlu dimulai sejak kehamilan hingga anak memasuki masa remaja.
Namun, orang tua tidak perlu panik terhadap setiap perubahan kualitas udara. Mereka dapat mengurangi risiko dengan mengatur aktivitas dan menjaga lingkungan rumah.
Dengan demikian, menjaga udara tetap bersih menjadi bagian penting dari upaya melindungi paru anak. Kebiasaan tersebut juga dapat membantu mendukung kesehatan pernapasan dalam jangka panjang.
penanganan sesuai kondisi sebenarnya.
“Baca Juga: Testis Sakit Setelah Seks? Kenali 9 Penyebabnya“