RS Satria Medika – Intoleransi laktosa dan alergi susu merupakan dua kondisi yang berbeda. Keduanya dapat muncul setelah seseorang mengonsumsi susu atau produk olahannya.
Namun, kedua kondisi tersebut memiliki penyebab dan gejala yang berbeda. Karena itu, orang tua perlu mengenali perbedaannya sebelum memberikan penanganan.
“Baca Juga: Beban Ekonomi DBD Indonesia Tembus Rp9 Triliun pada 2024“
Intoleransi Laktosa Ganggu Pencernaan
Intoleransi laktosa terjadi ketika tubuh kesulitan mencerna laktosa. Laktosa merupakan gula alami yang terdapat dalam susu dan produk olahannya.
Tubuh membutuhkan enzim laktase untuk mencerna laktosa. Ketika tubuh menghasilkan terlalu sedikit laktase, laktosa dapat menimbulkan gangguan pencernaan.
Gejala biasanya muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa. Keluhan dapat berupa kembung, banyak gas, kram perut, dan diare.
Pada anak, orang tua dapat melihat perubahan setelah anak minum susu. Anak mungkin mengalami perut kembung atau lebih sering buang angin.
Intoleransi laktosa biasanya tidak melibatkan sistem kekebalan tubuh. Karena itu, kondisi tersebut berbeda dari alergi susu.
Alergi Susu Melibatkan Sistem Kekebalan
Alergi susu terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap protein dalam susu. Kondisi ini berbeda dari gangguan pencernaan akibat intoleransi laktosa.
Alergi susu lebih sering muncul pada anak, terutama pada usia dini. Gejalanya dapat muncul beberapa menit hingga beberapa jam setelah konsumsi susu.
Gejala dapat mencakup ruam, gatal, muntah, diare, batuk, dan sesak napas. Pada kondisi berat, alergi susu dapat menyebabkan anafilaksis yang mengancam nyawa.
Karena itu, orang tua perlu segera mencari bantuan medis ketika anak mengalami reaksi berat setelah minum susu.
Bagaimana Membedakan Keduanya?
Intoleransi laktosa umumnya menimbulkan keluhan pada sistem pencernaan. Sementara itu, alergi susu dapat memengaruhi kulit, saluran pernapasan, dan sistem pencernaan.
Intoleransi juga bergantung pada jumlah laktosa yang masuk ke tubuh. Sebagian orang masih dapat mengonsumsi sedikit produk susu tanpa mengalami keluhan.
Sebaliknya, alergi susu membutuhkan perhatian lebih serius. Bahkan sejumlah kecil protein susu dapat memicu reaksi pada sebagian orang.
Karena gejala dapat terlihat mirip, orang tua sebaiknya tidak menentukan diagnosis sendiri. Dokter dapat melakukan pemeriksaan berdasarkan gejala dan riwayat konsumsi makanan.
Penanganan Intoleransi Laktosa
Penanganan intoleransi laktosa bergantung pada penyebab dan tingkat keluhan. Dokter dapat menyarankan pengurangan jumlah makanan yang mengandung laktosa.
Sebagian orang dapat memilih susu rendah laktosa atau bebas laktosa. Mereka juga dapat mengonsumsi produk susu dalam porsi kecil bersama makanan.
Selain itu, dokter dapat menyarankan penggunaan enzim laktase. Enzim tersebut membantu tubuh memecah laktosa sehingga pencernaan dapat berlangsung lebih mudah.
Orang tua tetap perlu memperhatikan kebutuhan kalsium dan vitamin D anak. Jangan menghilangkan seluruh produk susu tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Penanganan Alergi Protein Susu
Penanganan alergi susu membutuhkan pendekatan berbeda. Pasien biasanya perlu menghindari susu dan produk yang mengandung protein susu.
Bayi yang masih menyusu dapat tetap menerima ASI. Namun, dokter dapat menyarankan ibu menghindari produk susu jika protein susu memicu reaksi bayi.
Bayi yang membutuhkan susu formula dapat menggunakan formula khusus. Dokter dapat memilih formula terhidrolisis atau berbasis asam amino sesuai kondisi bayi.
Orang tua sebaiknya tidak mengganti formula secara mandiri. Dokter perlu menilai kebutuhan nutrisi dan tingkat alergi sebelum menentukan pilihan.
ASI Tetap Menjadi Pilihan Penting bagi Bayi
Bayi memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda dari anak yang lebih besar. Karena itu, orang tua perlu berkonsultasi sebelum mengganti ASI dengan susu formula.
ASI memberikan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan bayi. Selain itu, ASI membantu memenuhi kebutuhan bayi selama masa awal pertumbuhan.
Jika bayi menunjukkan gejala setelah menyusu, orang tua perlu berkonsultasi dengan dokter. Dokter dapat mencari penyebab gejala dan menentukan langkah berikutnya.
Kapan Orang Tua Harus Membawa Anak ke Dokter?
Orang tua sebaiknya membawa anak ke dokter ketika gejala muncul berulang setelah konsumsi susu. Pemeriksaan dapat membantu membedakan alergi dari intoleransi.
Orang tua juga perlu segera mencari pertolongan ketika anak mengalami sesak napas. Pembengkakan pada bibir atau tenggorokan juga membutuhkan penanganan darurat.
Dengan memahami perbedaannya, orang tua dapat memberikan penanganan yang lebih tepat. Jangan mengubah pola makan anak secara drastis tanpa arahan tenaga kesehatan.
Intoleransi laktosa terutama mengganggu pencernaan, sedangkan alergi susu melibatkan sistem kekebalan tubuh. Karena itu, keduanya membutuhkan pendekatan yang berbeda.
“Baca Juga: Jenderal AS Dorong Trump Cari Jalan Damai dengan Iran“