RS Satria Medika – Kerokan masih menjadi kebiasaan yang banyak masyarakat Indonesia gunakan untuk meredakan pegal. Sebagian orang juga menggunakan kerokan ketika mengalami keluhan yang mereka sebut masuk angin.
Namun, muncul anggapan bahwa tidur saat menjalani kerokan dapat menyebabkan kondisi fatal. Dokter sekaligus edukator kesehatan dr. Tirta Mandira Hudhi memberikan penjelasan mengenai anggapan tersebut.
Menurut dr. Tirta, posisi tidur bukan faktor utama yang menyebabkan bahaya saat kerokan. Masyarakat tetap dapat melakukan kerokan selama mereka memperhatikan teknik dan bagian tubuh yang tepat.
“Ya, kerokan pada waktu tidur itu sebenarnya enggak masalah,” kata dr. Tirta, dikutip Sabtu (15/8/2026).
“Baca Juga: Bau Kaki Tak Hilang? Kenali Penyebab dan Cara Mencegahnya“
Kerokan Terlalu Keras Bisa Menimbulkan Risiko
Dr. Tirta menjelaskan bahwa tekanan berlebihan justru dapat menimbulkan masalah. Risiko tersebut semakin perlu diperhatikan ketika seseorang menggosok area tubuh tertentu.
Bagian leher memiliki pembuluh darah besar yang sangat sensitif terhadap perubahan tekanan. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menggosok bagian samping leher dengan tekanan kuat.
“Kalau misalnya dia ngeroknya terlalu ke leher sini, itu bisa memacu drop-nya tensi secara mendadak,” jelasnya.
Menurut dr. Tirta, kondisi tersebut dapat menjadi lebih berisiko bagi orang dengan penyakit jantung. Karena itu, kelompok tersebut perlu lebih berhati-hati ketika melakukan kerokan.
Pilih Area Tubuh yang Lebih Aman
Dr. Tirta menyarankan masyarakat memilih bagian tubuh dengan massa otot yang cukup. Punggung, bahu, lengan, kaki, paha, dan punggung bawah termasuk area yang ia sebutkan.
Masyarakat juga dapat melakukan kerokan pada bagian belakang lutut dan leher belakang. Namun, mereka sebaiknya menghindari bagian samping leher karena terdapat pembuluh darah besar.
“Makanya kerokan itu secukupnya di otot-otot yang memang ekstremitas,” ujar dr. Tirta.
Selain itu, masyarakat perlu mengatur tekanan ketika menggosok kulit. Tekanan berlebihan dapat menyebabkan iritasi, luka, bahkan perdarahan.
Jangan Terlalu Sering Melakukan Kerokan
Kerokan juga tidak sebaiknya dilakukan terlalu sering. Gesekan berulang dapat mengiritasi kulit dan menimbulkan luka.
Dr. Tirta menjelaskan bahwa kerokan bekerja melalui rangsangan pada pembuluh darah kecil. Rangsangan tersebut dapat memberikan sensasi rileks pada otot.
Karena itu, masyarakat sebaiknya menggunakan teknik yang wajar. Mereka juga perlu menghentikan kerokan ketika kulit mulai terasa sakit atau mengalami luka.
Kerokan Sambil Tidur: Dr. Tirta Masih Melakukan Kerokan
Dr. Tirta mengaku masih melakukan kerokan sesekali. Ia menggunakan kerokan untuk membantu memberikan rasa rileks setelah menjalani aktivitas panjang.
Pekerjaannya membuatnya sering menatap laptop dan ponsel dalam waktu lama. Kondisi tersebut dapat membuat otot leher dan bahunya terasa tegang.
“Masih. Jadi saya itu masih kerokan,” kata dr. Tirta.
Dengan demikian, tidur saat kerokan bukan faktor utama yang menimbulkan bahaya. Masyarakat justru perlu memperhatikan tekanan dan lokasi ketika melakukan kerokan.
Namun, orang dengan kondisi kesehatan tertentu sebaiknya lebih berhati-hati. Jika muncul keluhan serius setelah kerokan, segera cari pertolongan medis.
“Baca Juga: Urine Menetes Setelah Kencing? Kenali Penyebabnya“