RS Satria Medika – Vera, 66 tahun, merasakan nyeri lutut selama lebih dari 15 tahun. Awalnya, rasa sakit muncul pada lutut kanan. Namun, beberapa waktu kemudian, lutut kiri juga mengalami keluhan yang sama.
Nyeri tersebut semakin mengganggu aktivitas harian. Vera kesulitan berdiri setelah duduk. Ia juga sering terbangun saat malam karena lutut terasa kaku dan sakit.
Mantan atlet renang itu mencoba berbagai metode pengobatan. Ia rutin menjalani suntik lutut untuk mengurangi rasa nyeri. Awalnya, ia menjalani suntik setiap dua tahun sekali. Namun, frekuensinya meningkat menjadi setiap enam bulan.
Selain itu, Vera juga sempat mencari pengobatan hingga ke Penang, Malaysia. Meski demikian, keluhan yang ia rasakan tidak kunjung membaik secara maksimal.
“Baca Juga: Vaksin HPV Bukan Hanya untuk Wanita, Pria Juga Perlu“
Dokter Menyarankan Operasi pada Kedua Lutut
Setelah berkonsultasi dengan dokter spesialis ortopedi subspesialis cedera olahraga, Andri Lubis, Vera mendapatkan rekomendasi operasi penggantian lutut.
Awalnya, dokter menyarankan operasi pada lutut kanan terlebih dahulu. Setelah dua bulan, dokter berencana menangani lutut kiri.
Namun, setelah melakukan evaluasi lanjutan, dokter memutuskan untuk mengoperasi kedua lutut sekaligus.
Keputusan tersebut bertujuan mempercepat pemulihan dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Hingga kini, Vera tetap aktif mengikuti berbagai lomba renang untuk kelompok lansia.
Kapan Operasi Penggantian Lutut Perlu Dilakukan?
Banyak orang mengalami gangguan sendi seiring bertambahnya usia. Kondisi ini sering muncul pada lutut, punggung, dan bahu.
Gangguan tersebut dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk bergerak dan beraktivitas. Padahal, banyak lansia masih ingin berolahraga, bepergian, atau menjalankan ibadah.
Menurut Andri Lubis, dokter biasanya mempertimbangkan operasi penggantian lutut ketika kerusakan sendi mulai menurunkan kualitas hidup pasien.
Dokter tidak hanya berfokus pada penyelamatan nyawa. Mereka juga berupaya membantu pasien menjalani hidup yang lebih nyaman dan aktif.
Karena itu, dokter akan mengevaluasi tingkat nyeri, kemampuan bergerak, dan kondisi sendi sebelum menentukan tindakan operasi.
Jangan Abaikan Nyeri yang Tidak Kunjung Hilang
Dokter spesialis ortopedi subspesialis traumatologi, I Made Yudi Mahardika, mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan rasa nyeri.
Menurutnya, nyeri merupakan sinyal bahwa tubuh sedang mengalami masalah tertentu.
Jika nyeri berlangsung lebih dari satu minggu, masyarakat perlu segera berkonsultasi dengan dokter. Kondisi tersebut menjadi lebih penting jika disertai pembengkakan atau tidak membaik setelah mengonsumsi obat.
Dokter biasanya melakukan pemeriksaan menggunakan foto rontgen atau MRI untuk mengetahui penyebab keluhan.
Yudi menjelaskan bahwa kerusakan sendi lutut sering berawal dari ketidakstabilan lutut. Cedera ligamen yang tidak ditangani dengan baik dapat mempercepat kerusakan sendi.
Jika seseorang tetap aktif berolahraga tanpa penanganan yang tepat, risiko kerusakan sendi akan meningkat.
Operasi Lutut Tidak Menjadi Pilihan Pertama
Dokter tidak langsung menyarankan operasi penggantian lutut kepada semua pasien.
Tim medis biasanya mengutamakan pengobatan konservatif terlebih dahulu. Dokter dapat memberikan obat, terapi fisik, atau suntikan sesuai kondisi pasien.
Yudi menjelaskan bahwa operasi penggantian lutut lebih sering dilakukan pada pasien berusia di atas 65 tahun.
Pada kelompok usia tersebut, aktivitas fisik cenderung lebih terukur sehingga implan dapat bertahan lebih lama.
Sebaliknya, pasien yang lebih muda biasanya masih memiliki aktivitas tinggi yang dapat mempercepat keausan implan.
Pemulihan Menjadi Kunci Keberhasilan Operasi
Banyak pasien merasa khawatir terhadap nyeri setelah operasi lutut. Kekhawatiran ini cukup wajar karena prosedur tersebut memang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman selama masa pemulihan.
Namun, rumah sakit kini menerapkan berbagai metode untuk mempercepat proses penyembuhan.
Salah satunya adalah pendekatan Enhanced Recovery After Surgery atau ERAS. Program ini membantu mengendalikan nyeri dan mempercepat mobilitas pasien setelah operasi.
Selain itu, dokter anestesi, dokter rehabilitasi medik, dan tenaga kesehatan lain bekerja bersama dalam proses pemulihan.
Menurut Andri, kerja sama seluruh tim medis sangat menentukan hasil akhir operasi. Dengan pendekatan yang tepat, pasien dapat kembali bergerak lebih cepat dan menikmati kualitas hidup yang lebih baik.
“Baca Juga: Pria Sering Pakai Celana Ketat? Waspadai Risiko Ini“