RS Satria Medika – Kasus Hantavirus kembali menarik perhatian publik setelah laporan penumpang kapal pesiar MV Hondius. Kapal tersebut berlayar menuju Tenerife, Spanyol.
Beberapa penumpang dilaporkan terinfeksi virus Hanta. Bahkan, tiga orang meninggal dunia akibat infeksi tersebut.
Meski tergolong langka, virus Hanta dapat memicu gangguan serius pada paru-paru dan ginjal. Karena itu, masyarakat perlu memahami cara penularan dan gejalanya.
“Baca Juga: Kemenkes Waspadai Hantavirus, 21 RS Disiagakan“
Hantavirus Berasal dari Hewan Pengerat
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rio Yansen Cikutra menjelaskan virus Hanta berasal dari hewan pengerat, terutama tikus.
Virus ini dapat menyebabkan dua gangguan utama pada manusia. Pertama adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS yang menyerang paru-paru.
Selain itu, ada Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS yang menyerang ginjal dan pembuluh darah.
Penularan Hantavirus Terjadi Lewat Udara
Rio mengatakan penularan paling sering terjadi melalui udara yang terkontaminasi.
Seseorang bisa terinfeksi setelah menghirup partikel dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang membawa virus.
Selain itu, kontak langsung dengan tikus atau sarangnya juga meningkatkan risiko penularan.
Seseorang juga dapat tertular setelah menyentuh benda terkontaminasi lalu menyentuh wajah. Gigitan tikus juga bisa menularkan virus meski kasusnya jarang terjadi.
Pada jenis tertentu seperti Andes hantavirus, penularan antar manusia juga mungkin terjadi. Namun, kasus tersebut sangat jarang ditemukan.
Gejala Awal Hantavirus Mirip Flu Berat
Pada tahap awal, penderita biasanya mengalami demam tinggi dan sakit kepala hebat.
Selain itu, pasien juga sering merasakan nyeri otot pada bagian paha dan punggung. Tubuh penderita biasanya terasa sangat lemas.
Beberapa pasien juga mengalami nyeri perut, muntah, dan diare. Karena itu, banyak orang sulit membedakan gejala Hantavirus dengan penyakit lain.
Kondisi Berat Bisa Ganggu Paru-Paru dan Ginjal
Jika kondisi memburuk, pasien dapat mengalami batuk dan sesak napas berat.
Gangguan tersebut muncul akibat cairan yang menumpuk di paru-paru. Selain itu, pasien juga bisa mengalami tubuh menguning atau jaundice.
Rio menjelaskan Hantavirus juga dapat menyebabkan tekanan darah turun drastis hingga syok. Virus ini bahkan bisa mengganggu fungsi ginjal.
Karena itu, penanganan cepat sangat penting untuk mencegah komplikasi berbahaya.
Lingkungan Kotor Tingkatkan Risiko Penularan
Rio meminta masyarakat lebih waspada terhadap lingkungan dengan populasi tikus tinggi.
Gudang, loteng, dan bangunan lama yang jarang dibersihkan juga memiliki risiko lebih besar. Debu dari area tersebut bisa membawa partikel virus.
Karena itu, masyarakat perlu memakai alat pelindung saat membersihkan area tertutup.
Selain itu, masyarakat perlu menjaga kebersihan rumah dan tempat kerja. Rio menyarankan penggunaan metode pel basah agar debu tidak beterbangan.
Aktivitas Luar Ruangan Juga Perlu Perhatian
Pekerja pertanian dan perkebunan memiliki risiko lebih tinggi karena sering berada dekat habitat tikus.
Selain itu, aktivitas berkemah tanpa menjaga kebersihan makanan juga meningkatkan risiko paparan virus.
Rio meminta masyarakat segera memeriksakan diri jika mengalami demam tinggi dan nyeri otot setelah kontak dengan lingkungan berisiko.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, Margareth Aryani Santoso, mengatakan rumah sakit siap menangani risiko penyakit infeksi seperti Hantavirus.
“Baca Juga: Kemenkes Pastikan WN Singapura Negatif Hantaviru“