Sakit Perut dan Asam Lambung Kenali Penanganannya

RS Satria Medika – Keluhan pencernaan seperti nyeri perut berulang, asam lambung naik, dan perubahan pola buang air besar sering dianggap sepele. Namun, keluhan yang terus muncul atau tidak kunjung membaik memerlukan pemeriksaan dokter.

Gangguan pencernaan memiliki penyebab dan tingkat keparahan yang berbeda. Sebagian pasien cukup menjalani perubahan gaya hidup dan mengonsumsi obat. Namun, kondisi tertentu membutuhkan tindakan medis hingga operasi.

Karena itu, dokter perlu menyesuaikan penanganan dengan penyebab penyakit dan kondisi setiap pasien. Dokter spesialis bedah digestif, dr. Eko Priatno, Sp.B, Subsp.BD(K), menegaskan bahwa operasi bukan pilihan pertama untuk semua gangguan pencernaan.

“Tidak semua gangguan pencernaan memerlukan operasi. Kami terlebih dahulu mencari penyebab keluhan dan mengevaluasi kondisi pasien, kemudian menentukan terapi yang paling sesuai. Tujuannya bukan hanya menangani penyakit, tetapi juga menjaga kualitas hidup pasien,” jelas dr. Eko.

“Baca Juga: Bahaya Kol Goreng bagi Kesehatan, Ini Kata Menkes“

1. Dokter Menyesuaikan Penanganan dengan Penyebab Gangguan

Pada kasus gastroesophageal reflux disease (GERD), dokter biasanya memulai penanganan melalui perubahan gaya hidup dan pemberian obat.

Pasien dapat menyesuaikan pola makan, menghindari pemicu asam lambung, serta mengikuti anjuran dokter. Jika keluhan tetap berlanjut meski pasien menjalani pengobatan secara optimal, dokter dapat mempertimbangkan tindakan antirefluks.

Namun, dokter perlu mengevaluasi hasil pemeriksaan sebelum menentukan tindakan tersebut. Dengan demikian, pasien mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan medisnya.

2. Batu Empedu Bisa Memerlukan Operasi

Batu empedu juga dapat menyebabkan gangguan pencernaan. Jika batu menimbulkan keluhan atau komplikasi, dokter dapat mempertimbangkan operasi pengangkatan kantong empedu.

Dokter dapat menggunakan teknik laparoskopi yang melibatkan sayatan kecil. Pada pasien tertentu, teknik ini dapat membantu mempercepat pemulihan dibandingkan operasi terbuka.

Meski begitu, dokter tetap mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien dan tingkat kesulitan kasus sebelum memilih prosedur.

3. Penanganan Kanker Usus dan Rektum Memerlukan Evaluasi

Gangguan pencernaan terkadang berkaitan dengan penyakit serius, seperti kanker usus besar dan kanker rektum. Karena itu, dokter perlu menyusun rencana penanganan secara cermat.

Dalam kondisi tertentu, dokter dapat menggunakan teknik operasi minimal invasif. Salah satu pilihan untuk kanker rektum adalah Intersphincteric Resection (ISR).

Prosedur ISR bertujuan mengangkat kanker sekaligus mempertahankan fungsi anus jika kondisi pasien memungkinkan. Melalui pendekatan ini, dokter berupaya menjaga kualitas hidup pasien tanpa mengabaikan keselamatan dan keberhasilan pengangkatan kanker.

“Pada kanker rektum, kami berupaya mempertahankan fungsi organ bila kondisi memungkinkan. Namun, keamanan pasien dan pengangkatan kanker sesuai prinsip medis tetap menjadi prioritas,” ujar dr. Eko.

Meski demikian, tidak semua pasien dapat menjalani prosedur yang sama. Dokter menentukan jenis operasi berdasarkan lokasi tumor, karakteristik kanker, kondisi pasien, dan hasil evaluasi tim medis.

4. Tumor Saluran Pencernaan Bisa Membutuhkan Operasi Whipple

Selain kanker usus dan rektum, tumor pada kepala pankreas, saluran empedu, atau usus dua belas jari juga membutuhkan perhatian khusus.

Untuk kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan operasi Whipple. Prosedur besar ini melibatkan pengangkatan bagian organ yang terdampak tumor.

Setelah itu, dokter menyambungkan kembali saluran pencernaan agar fungsinya tetap berjalan. Sebelum mengambil keputusan, dokter mengevaluasi kondisi pasien, lokasi dan luas tumor, serta manfaat dan risiko operasi.

5. Pemeriksaan Membantu Dokter Menentukan Diagnosis

Dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan berdasarkan gejala dan dugaan penyakit pasien. Pilihannya meliputi endoskopi, kolonoskopi, CT scan, atau MRI.

Endoskopi membantu dokter memeriksa saluran pencernaan bagian atas. Sementara itu, kolonoskopi memungkinkan dokter mengevaluasi bagian dalam usus besar dan rektum.

CT scan dan MRI memberikan gambaran organ dalam untuk membantu diagnosis serta perencanaan penanganan.

Selain pemeriksaan tersebut, layanan Digestive Center menyediakan konsultasi, pemeriksaan diagnostik, serta penanganan medis dan bedah sesuai kebutuhan pasien.

Fasilitas yang tersedia mencakup endoskopi, kolonoskopi, CT scan 512 slice dengan teknologi kecerdasan buatan (AI), serta MRI 3 Tesla.

Jangan Abaikan Keluhan yang Berulang

Keluhan pencernaan yang terus berulang atau tidak kunjung membaik sebaiknya mendorong pasien untuk berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan membantu dokter menemukan penyebab dan menentukan penanganan yang tepat.

Dengan diagnosis yang sesuai, dokter dapat memilih terapi berdasarkan kebutuhan pasien. Pendekatan ini juga membantu menjaga keselamatan dan kualitas hidup pasien selama menjalani perawatan.

“Baca Juga: Kabut Asap Karhutla, Menkes Imbau Kelompok Rentan di Rumah“

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *