RS Satria Medika – Kasus Hantavirus kembali menarik perhatian dunia setelah muncul klaster infeksi di kapal pesiar MV Hondius.
Wabah tersebut dikaitkan dengan Andes Virus, salah satu jenis Hantavirus yang memiliki tingkat bahaya tinggi. Selain itu, virus ini juga memiliki potensi penularan antarmanusia meski terbatas.
Karena itu, masyarakat mulai ingin memahami perbedaan beberapa varian Hantavirus yang beredar di dunia.
“Baca Juga: Kenali Gejala Hantavirus dan Cara Mencegah Penularan“
Hantavirus Memiliki Beberapa Jenis
Epidemiolog Dicky Budiman menjelaskan Hantavirus terdiri dari beberapa jenis berbeda.
Virus tersebut umumnya menyebar melalui hewan pengerat, terutama tikus. Namun, setiap varian memiliki karakteristik dan tingkat bahaya berbeda.
Dua jenis yang paling sering dibahas adalah Andes Virus dan Seoul Virus.
Menurut Dicky, kedua virus tersebut masih berasal dari keluarga Hantavirus. Meski begitu, pola penularan dan dampaknya tidak sama.
Andes Virus Lebih Berbahaya
Andes Virus banyak ditemukan di Amerika Selatan, terutama Chile dan Argentina.
Virus ini dapat menyerang paru-paru dan memicu gagal napas akut. Selain itu, Andes Virus juga bisa mengganggu fungsi jantung.
Dicky menjelaskan tingkat kematian Andes Virus cukup tinggi. Dari sepuluh kasus, sekitar empat hingga lima pasien dapat meninggal dunia.
Hal yang membuat Andes Virus lebih berbahaya adalah potensi penularan antarmanusia.
Meski kasusnya terbatas, kemampuan tersebut membuat Andes Virus mendapat perhatian khusus.
Karena itu, wabah di kapal pesiar MV Hondius langsung memicu kekhawatiran internasional.
Seoul Virus Lebih Relevan di Indonesia
Berbeda dengan Andes Virus, Seoul Virus lebih banyak ditemukan di Asia.
Virus ini tersebar di China, Korea, dan beberapa negara lain termasuk Indonesia.
Seoul Virus biasanya berasal dari tikus perkotaan yang hidup di area padat dan kotor.
Tikus tersebut sering berada di saluran air, gudang, rumah kosong, dan lingkungan dengan sanitasi buruk.
Menurut Dicky, kondisi urbanisasi membuat Seoul Virus lebih relevan bagi Indonesia.
Selain itu, kawasan padat penduduk dan pengelolaan sampah yang buruk dapat meningkatkan populasi tikus.
Seoul Virus Bisa Ganggu Ginjal
Seoul Virus dapat menyebabkan demam dan gangguan ginjal.
Selain itu, pasien juga bisa mengalami gejala mirip demam berdarah atau hemorrhagic fever.
Meski begitu, tingkat kematian Seoul Virus lebih rendah dibanding Andes Virus.
Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan angka kematian Seoul Virus berada di kisaran belasan persen.
Karena itu, risiko Seoul Virus tetap perlu mendapat perhatian serius.
Penularan Terjadi dari Kotoran Tikus
Dicky menjelaskan penularan Hantavirus paling sering terjadi melalui partikel udara yang tercemar kotoran tikus.
Seseorang bisa tertular setelah menghirup debu yang mengandung urine atau kotoran tikus terinfeksi.
Selain itu, penularan juga dapat terjadi setelah menyentuh benda terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut.
Gigitan tikus sebenarnya jarang menjadi penyebab utama penularan.
Kebersihan Lingkungan Jadi Kunci Pencegahan
Dicky meminta masyarakat menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar.
Gudang, lorong gelap, dan rumah kosong perlu dibersihkan secara rutin agar tidak menjadi sarang tikus.
Selain itu, masyarakat juga perlu menutup lubang yang memungkinkan tikus masuk ke rumah.
Kondisi banjir juga dapat meningkatkan penyebaran kotoran tikus ke berbagai area.
Karena itu, masyarakat perlu lebih waspada setelah banjir terjadi.
Dengan menjaga kebersihan lingkungan, risiko penyebaran Hantavirus dapat ditekan lebih baik.
“Baca Juga: Dokter Jelaskan Mitos dan Fakta Seputar Imunisasi“