Jantung Berdebar saat Marah, Ini Penyebabnya

RS Satria Medika – Jantung berdebar dan napas terasa ngos-ngosan saat marah sering membuat seseorang panik. Kondisi ini sebenarnya merupakan respons alami tubuh terhadap emosi kuat.

Saat marah atau cemas, tubuh akan meningkatkan kerja jantung dan pernapasan. Karena itu, detak jantung terasa lebih cepat dan napas menjadi pendek.

Namun, kondisi tersebut tidak selalu muncul karena emosi biasa. Dalam beberapa kasus, gejala ini juga dapat menandakan gangguan kesehatan tertentu.

“Baca Juga: 17 Pendaki Selamat dari Erupsi Gunung Dukono“

Emosi Kuat Bisa Memengaruhi Kerja Jantung

Tubuh memiliki sistem saraf yang mengatur respons terhadap stres dan emosi. Saat seseorang marah atau takut, tubuh langsung melepaskan hormon stres.

Hormon tersebut membuat jantung berdetak lebih cepat. Selain itu, tubuh juga meningkatkan kecepatan pernapasan untuk memasok lebih banyak oksigen.

Karena itu, seseorang dapat merasa sesak napas atau ngos-ngosan ketika emosi memuncak. Kondisi ini biasanya membaik setelah tubuh kembali tenang.

Namun, jika gejala muncul terlalu sering, seseorang perlu memeriksakan kondisi kesehatannya.

Kecemasan Jadi Penyebab yang Paling Umum

Gangguan Kecemasan sering memicu jantung berdebar dan sesak napas. Saat cemas, tubuh bereaksi seperti menghadapi ancaman besar.

Akibatnya, detak jantung meningkat dan napas menjadi lebih pendek. Selain itu, penderita juga dapat mengalami tubuh gemetar dan berkeringat dingin.

Beberapa orang juga merasakan sakit perut, mudah lelah, dan sulit berkonsentrasi. Gejala tersebut bisa muncul secara tiba-tiba atau berlangsung cukup lama.

Karena itu, seseorang perlu mencari bantuan medis jika kecemasan muncul terus-menerus tanpa alasan jelas.

Serangan Panik Bisa Muncul Mendadak

Serangan Panik juga dapat menyebabkan jantung berdebar dan napas ngos-ngosan. Kondisi ini biasanya muncul secara tiba-tiba.

Penderita sering merasa takut berlebihan meski tidak berada dalam bahaya nyata. Selain itu, tubuh juga dapat terasa lemas dan gemetar.

Beberapa gejala lain yang sering muncul meliputi:

  • nyeri dada
  • pusing
  • mual
  • keringat dingin
  • rasa takut berlebihan

Karena gejalanya mirip serangan jantung, banyak orang merasa sangat panik saat mengalaminya.

Serangan Jantung Memerlukan Penanganan Cepat

Serangan Jantung juga dapat memicu jantung berdebar dan sesak napas. Kondisi ini terjadi ketika aliran darah menuju jantung terganggu.

Akibatnya, otot jantung tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Jika kondisi terus berlangsung, jaringan jantung dapat mengalami kerusakan serius.

Selain jantung berdebar, penderita biasanya mengalami nyeri dada yang menjalar ke bagian tubuh lain. Nyeri dapat menyebar ke rahang, bahu, leher, atau punggung.

Penderita juga sering mengalami keringat dingin, mual, dan rasa lemas. Karena itu, kondisi ini membutuhkan pertolongan medis secepat mungkin.

Gagal Jantung Membuat Tubuh Mudah Lelah

Gagal Jantung terjadi ketika jantung tidak mampu memompa darah secara maksimal. Kondisi ini membuat tubuh kekurangan pasokan oksigen.

Akibatnya, penderita mudah merasa lelah dan sesak napas. Selain itu, kaki juga dapat mengalami pembengkakan.

Gejala gagal jantung dapat berkembang perlahan selama beberapa bulan. Namun, beberapa orang juga mengalami gejala secara mendadak.

Karena itu, pemeriksaan rutin sangat penting untuk mencegah kondisi semakin parah.

Fibrilasi Atrium Membuat Detak Jantung Tidak Teratur

Fibrilasi Atrium merupakan gangguan irama jantung yang cukup serius. Kondisi ini membuat detak jantung menjadi cepat dan tidak teratur.

Penderita biasanya merasakan jantung berdebar cukup kuat. Selain itu, tubuh juga mudah lelah saat melakukan aktivitas ringan.

Dalam beberapa kasus, penderita mengalami nyeri dada dan sesak napas. Kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko stroke dan gagal jantung.

Karena itu, penderita perlu mendapatkan penanganan medis secara rutin.

Jantung Berdebar dan Sesak Napas saat Marah: Cara Mengatasi?

Penanganan kondisi ini bergantung pada penyebab utamanya. Jika stres menjadi pemicu, seseorang dapat mencoba teknik relaksasi dan istirahat cukup.

Selain itu, olahraga ringan dan tidur teratur juga membantu menjaga kondisi tubuh tetap stabil.

Namun, seseorang perlu segera memeriksakan diri ke dokter jika gejala muncul berulang. Risiko juga meningkat jika gejala disertai nyeri dada atau pusing berat.

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan untuk mencari penyebab pasti. Setelah itu, dokter akan menentukan pengobatan yang sesuai dengan kondisi pasien.

Pada gangguan kecemasan, dokter dapat memberikan terapi psikologis atau obat tertentu. Sementara pada penyakit jantung, dokter mungkin menyarankan obat atau tindakan medis lain.

“Baca Juga: 5 Cara Jaga Imunitas Saat Virus Hanta Merebak“

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *