RS Satria Medika – Dalam peringatan World Cancer Day 2026, para ahli kembali menyoroti pola makan masyarakat. Mereka menekankan hubungan antara makanan ultra-proses dan risiko kanker.
Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia mengingatkan masyarakat tentang bahaya konsumsi daging olahan. Ia menyebut produk seperti sosis, nugget, ham, bacon, dan daging asap semakin mudah ditemukan. Namun, kemudahan tersebut membawa risiko kesehatan jangka panjang.
Ia menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami dampak konsumsi rutin makanan siap saji. Selain itu, ia mendorong perubahan pola makan yang lebih seimbang.
“Baca Juga: Pasien Cuci Darah Capai 200 Ribu, Deteksi Dini Ginjal Penting“
Penelitian Tunjukkan Risiko Kesehatan Serius
Penelitian yang dimuat dalam The Journal of Nutrition pada 12 Februari 2026 memperkuat kekhawatiran tersebut. Para peneliti menemukan hubungan antara daging olahan dan peningkatan risiko penyakit.
Mereka mencatat peningkatan risiko kanker kolorektal atau kanker usus besar. Selain itu, mereka juga menemukan kaitan dengan diabetes tipe 2. Bahkan, risiko penyakit jantung ikut meningkat. Lebih jauh lagi, angka kematian juga menunjukkan kecenderungan naik.
Menariknya, penelitian tersebut menunjukkan risiko tetap ada meski konsumsi tidak berlebihan. Karena itu, para ahli mendorong masyarakat untuk lebih waspada.
Proses Pengolahan Picu Zat Berbahaya
Para peneliti menjelaskan bahwa proses pengolahan memicu pembentukan zat berbahaya. Pengasapan, pengawetan dengan nitrit, dan pemanggangan suhu tinggi menghasilkan senyawa yang merusak sel.
Zat tersebut dapat memicu pertumbuhan sel abnormal. Akibatnya, tubuh menghadapi risiko kanker yang lebih besar. Selain itu, konsumsi rutin juga memicu peradangan dalam tubuh.
Peradangan yang berlangsung lama dapat melemahkan sistem pertahanan tubuh. Oleh sebab itu, tubuh menjadi lebih rentan terhadap berbagai penyakit.
Gangguan Usus dan Risiko Metabolik
Penelitian juga menunjukkan gangguan pada keseimbangan bakteri usus. Daging olahan dapat mengurangi jumlah bakteri baik dalam saluran pencernaan.
Ketidakseimbangan tersebut memengaruhi sistem imun. Selanjutnya, kondisi ini meningkatkan risiko kanker pada saluran cerna. Selain itu, gangguan usus juga berdampak pada metabolisme tubuh.
Konsumsi berlebihan dapat memicu resistensi insulin. Kondisi ini meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Pada saat yang sama, risiko penyakit jantung ikut meningkat.
Gaya Hidup Sehat Turunkan Risiko
Meski demikian, para ahli menekankan bahwa kanker tidak muncul karena satu faktor saja. Gaya hidup, aktivitas fisik, dan faktor genetik ikut berperan.
Karena itu, masyarakat perlu menjaga pola makan secara keseluruhan. Mereka sebaiknya membatasi konsumsi daging olahan. Sebagai gantinya, mereka dapat memilih protein nabati, ikan, atau unggas.
Selain itu, masyarakat perlu menambah asupan serat setiap hari. Sayur, buah, dan biji-bijian membantu menjaga kesehatan usus. Serat juga membantu tubuh mengurangi pembentukan zat berbahaya.
Pada akhirnya, perubahan kecil dalam pola makan memberi dampak besar. Jika masyarakat konsisten menerapkan kebiasaan sehat, mereka dapat menurunkan risiko kanker dalam jangka panjang.