RS Satria Medika – Banyak orang pernah merasakan kesemutan saat duduk bersila atau menyilangkan kaki.
Sensasi ini terasa seperti ditusuk jarum halus atau mati rasa sementara.
Tubuh sebenarnya sedang memberi sinyal bahwa saraf atau aliran darah tertekan.
Kesemutan umumnya tidak berbahaya dan sering hilang setelah bergerak.
Namun, tubuh menggunakan sensasi ini sebagai peringatan alami.
Karena itu, penting memahami penyebabnya agar tidak panik.
“Baca Juga: Dokter Tirta Ungkap Alasan Berhenti Merokok dan Hidup Sehat“
Kesemutan Berkaitan dengan Gangguan Saraf Sementara
Dalam dunia kesehatan, orang mengenal kondisi ini sebagai paresthesia.
Paresthesia menggambarkan rasa kesemutan, kebas, atau mati rasa tanpa luka.
Kondisi ini sering muncul saat tubuh berada pada posisi tertentu terlalu lama.
Saraf membutuhkan ruang dan aliran darah yang lancar.
Saat posisi duduk menekan saraf, sinyal ke otak menjadi terganggu.
Akibatnya, tubuh merespons dengan rasa kesemutan.
Menurut sumber kesehatan, kondisi ini bisa muncul di tangan atau kaki.
Gejala lain dapat berupa rasa lemah, dingin, atau sensasi terbakar ringan.
Namun, gejala tersebut biasanya bersifat sementara.
Tekanan Saraf Jadi Penyebab Utama
Duduk dalam posisi statis terlalu lama dapat menekan saraf.
Menyilangkan kaki sering menjadi pemicu paling umum.
Tekanan ini menghambat kerja saraf dalam mengirim sinyal ke otak.
Ketika saraf tertekan, tubuh kehilangan sensasi normal.
Akibatnya, kaki atau tangan terasa mati rasa.
Kondisi ini akan berkurang setelah tekanan menghilang.
Aliran Darah Bisa Terhambat Sementara
Selain saraf, posisi duduk juga memengaruhi aliran darah.
Tekanan pada pembuluh darah mengurangi pasokan oksigen sementara.
Jaringan tubuh kemudian merespons dengan rasa kebas.
Saat aliran darah melambat, tubuh tidak bekerja optimal.
Karena itu, kesemutan sering muncul sebelum rasa normal kembali.
Kondisi ini sangat umum dan biasanya cepat membaik.
Sensasi Muncul Saat Saraf Kembali Aktif
Ketika seseorang berdiri atau mengubah posisi, tekanan berkurang.
Aliran darah kembali mengalir dengan normal.
Saraf yang sempat “tertidur” mulai aktif kembali.
Pada tahap ini, kesemutan sering terasa lebih kuat sesaat.
Tubuh sedang menyesuaikan kembali fungsi normalnya.
Setelah beberapa menit, sensasi akan menghilang.
Kapan Kesemutan Perlu Diwaspadai?
Kesemutan normal biasanya hilang dalam beberapa menit.
Kondisi ini muncul setelah duduk lama dan membaik setelah bergerak.
Kesemutan normal juga tidak menimbulkan nyeri atau kelemahan.
Namun, kesemutan perlu diwaspadai jika berlangsung lama.
Risiko meningkat jika kesemutan muncul tanpa perubahan posisi.
Gejala seperti nyeri atau gangguan gerak juga perlu perhatian.
Dalam kondisi tersebut, seseorang sebaiknya memeriksakan diri.
Kesemutan berkepanjangan bisa berkaitan dengan gangguan saraf.
Masalah sirkulasi juga dapat menjadi penyebabnya.
Cara Sederhana Mencegah Kesemutan
Pencegahan kesemutan bisa dilakukan dengan kebiasaan sederhana.
Ubah posisi duduk secara berkala selama bekerja.
Hindari menyilangkan kaki terlalu lama.
Bangun dan berjalan setiap 30 hingga 60 menit.
Gunakan kursi yang menopang posisi duduk dengan baik.
Gerakan kecil membantu menjaga aliran darah tetap lancar.
Kesimpulan: Dengarkan Sinyal Tubuh
Kesemutan merupakan respons alami tubuh terhadap tekanan sementara.
Tubuh tidak dirancang untuk diam dalam satu posisi terlalu lama.
Karena itu, bergerak menjadi kebutuhan penting.
Dengan memberi jeda untuk berdiri atau mengubah posisi, tubuh kembali seimbang.
Aliran darah dan saraf dapat bekerja normal kembali.
Mendengarkan sinyal tubuh membantu menjaga kesehatan jangka panjang.
“Baca Juga: Inovasi Kesehatan Perlu Dasar Publikasi Ilmiah yang Kuat“