RS Satria Medika – Kolaborasi Multisektor Kasus DBD: Dalam lima tahun terakhir, dunia mencatat peningkatan besar kasus demam berdarah dengue (DBD). Derek Wallace, Presiden Global Vaccine Business Unit Takeda Pharmaceuticals, menyebut jumlah kasus global mencapai lebih dari 7,6 juta hingga April 2024. Dari total itu, lebih dari 16 ribu kasus tergolong berat dan 3 ribu di antaranya berakhir dengan kematian.
Amerika menjadi kawasan dengan kenaikan paling tinggi, namun Asia juga menghadapi tantangan besar. Di kawasan ini, Indonesia masih menyumbang sekitar 66 persen kematian akibat DBD pada 2024, menjadikannya salah satu negara dengan jumlah kasus tertinggi di Asia.
“Baca Juga: Banyak Pasien Kanker Payudara Terlambat Periksa ke Dokter“
Namun, di tengah tren global yang mengkhawatirkan, Indonesia justru berhasil menekan peningkatan kasus secara signifikan pada tahun 2025. Derek menilai, capaian ini tidak boleh membuat masyarakat lengah. “Untuk mempertahankan momentum, kita perlu kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan swasta,” ujarnya dalam konferensi pers, 4 November 2025.
Cuaca Ekstrem dan Perubahan Iklim Jadi Ancaman Baru
BMKG memperingatkan bahwa musim hujan 2025/2026 akan datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir dan genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti.
Puncak musim hujan diperkirakan terjadi antara November 2025 hingga Februari 2026, terutama di wilayah Kalimantan bagian timur. Cuaca ekstrem ini berpotensi mempercepat penyebaran DBD di berbagai daerah.
Untuk menghadapi risiko tersebut, Takeda bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan menyelenggarakan media briefing “Urgensi dan Kepemimpinan Indonesia dalam Perjuangan Melawan Dengue.” Acara ini bertujuan memperkuat edukasi masyarakat dan kesiapsiagaan menghadapi peningkatan kasus.
Strategi Nasional Lawan Dengue Berjalan Efektif
Prima Yosephine, Pelaksana Harian Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, menjelaskan bahwa Indonesia telah melaksanakan strategi nasional (STRANAS) penanggulangan dengue sejak 2021. Upaya ini melibatkan pemerintah daerah, akademisi, sektor swasta, dan organisasi internasional seperti WHO.
Dalam dua dekade terakhir, kasus DBD terus meningkat signifikan. Tahun 2005 mencatat 95.279 kasus, naik menjadi 114.720 kasus pada 2023, dan melonjak ke 257.271 kasus pada 2024. Namun hingga akhir Oktober 2025, tercatat 131.393 kasus dan 544 kematian, menunjukkan penurunan yang berarti dibanding tahun sebelumnya.
Prima menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen mencapai target nol kematian akibat DBD pada 2030. Untuk mewujudkannya, semua pihak perlu memperkuat inovasi, memperluas akses pencegahan, dan meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap penyakit ini.
BPJS Jamin Pengobatan DBD dan Dorong Pencegahan
Ghufron Mukti, Direktur Utama BPJS Kesehatan, menegaskan bahwa semua pasien DBD dijamin oleh Program JKN. Peserta dapat memeriksakan diri di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan dirujuk ke rumah sakit bila diperlukan.
Ia juga menyoroti lonjakan besar biaya perawatan DBD. Pada 2021, biaya klaim mencapai Rp 626 miliar, meningkat menjadi Rp 1,39 triliun pada 2022, dan Rp 2,9 triliun pada 2024 untuk lebih dari satu juta kasus rawat inap.
BPJS Kesehatan kini bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Takeda untuk memperkuat program pencegahan. “Kami mendukung penuh target pemerintah mencapai Zero Dengue Deaths 2030,” kata Ghufron.
Kolaborasi Multisektor Kasus DBD: Takeda Dukung Indonesia Lawan Dengue
Derek Wallace menegaskan komitmen Takeda dalam mendukung Indonesia melawan DBD melalui inovasi dan kolaborasi berbasis sains. “Kami bangga menjadi bagian dari perjuangan ini. Semua pihak harus bersatu melindungi masyarakat dan mencapai target Zero Dengue Deaths by 2030,” ujarnya.
Dengan kerja sama yang berkelanjutan dan strategi pencegahan yang kuat, Indonesia berpeluang besar menjadi contoh sukses bagi negara lain dalam menekan angka kematian akibat dengue di masa depan.
“Baca Juga: Banyak Pasien Kanker Payudara Terlambat Periksa ke Dokter“