Deteksi Dini Autoimun Penting untuk Cegah Komplikasi

RS Satria Medika – Deteksi Dini Autoimun: Dokter umum Eka Hospital Pekanbaru, Shofiana Nur Islami, menekankan pentingnya deteksi dini penyakit autoimun. Ia menjelaskan bahwa autoimun sering terlambat terdiagnosis karena gejalanya mirip penyakit lain. Shofiana mengajak masyarakat lebih waspada dengan mengenali tanda awal autoimun. Menurutnya, semakin cepat seseorang mengenali penyakit ini, semakin baik pula hasil pengobatannya.

“Baca Juga: Tips Jantung Sehat dengan Gaya Hidup Sederhana“

Seminar untuk Tingkatkan Kesadaran Masyarakat

Eka Hospital Pekanbaru bersama Holywings Peduli menggelar seminar kesehatan pada 21 September 2025 di Livehouse Pekanbaru. Seminar tersebut dihadiri lebih dari 150 peserta yang antusias mempelajari penyakit autoimun. Acara ini bertujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat sekaligus memberi informasi praktis mengenai gejala, faktor risiko, dan cara penanganan autoimun. Ketua Program CSR Holywings Peduli, Andrew Susanto, berharap kegiatan ini mendorong masyarakat menjaga kesehatan sejak dini.

Mengenal Penyakit Autoimun Lebih Dekat

Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel sehat. Normalnya, sistem imun melawan bakteri atau virus melalui antibodi. Namun, pada penderita autoimun, antibodi justru menyerang jaringan tubuh sendiri. Saat ini terdapat lebih dari 80 jenis penyakit autoimun, di antaranya lupus, rheumatoid arthritis, psoriasis, dan scleroderma.

Angka Penderita Autoimun di Indonesia

Data menunjukkan prevalensi lupus mencapai 0,5–1,7 persen populasi atau lebih dari 1,3 juta orang. Mayoritas penderita lupus adalah wanita berusia 15–45 tahun. Secara keseluruhan, penyakit autoimun menyerang sekitar 5–10 persen penduduk Indonesia. Angka ini setara dengan 12,5 hingga 25 juta orang. Setelah pandemi COVID-19, penelitian mencatat peningkatan kasus autoimun di tanah air.

Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai

Shofiana menjelaskan bahwa penyebab autoimun belum sepenuhnya diketahui. Namun, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko penyakit ini. Pertama, riwayat keluarga dengan autoimun. Kedua, riwayat infeksi virus atau bakteri, misalnya virus Epstein Barr. Ketiga, paparan bahan kimia berbahaya, seperti pestisida, asbes, merkuri, dan dioksin. Selain itu, kebiasaan merokok dan obesitas juga berpengaruh terhadap kesehatan imun seseorang.

Gejala Awal yang Sering Terjadi

Autoimun sering dijuluki “Penyakit dengan Seribu Wajah” karena gejalanya beragam. Gejala awal biasanya berupa rasa lemas yang sering muncul. Pasien juga sering merasakan nyeri otot atau sendi, demam berulang, serta ruam kulit. Beberapa penderita mengalami bengkak di wajah atau sendi, rambut rontok, dan sulit berkonsentrasi. Gejala lain termasuk kesemutan di tangan atau kaki. Shofiana menekankan pentingnya segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala tersebut.

Deteksi Dini Autoimun: Ajakan untuk Lebih Peduli Kesehatan

Kesadaran masyarakat terhadap autoimun masih rendah. Banyak orang baru mengetahui penyakit ini setelah kondisinya cukup parah. Melalui seminar edukasi, pihak rumah sakit dan komunitas berharap masyarakat lebih peduli pada kesehatan. Andrew Susanto menambahkan bahwa pencegahan sejak dini dapat menekan risiko penyakit kronis. Ia menegaskan bahwa menjaga pola hidup sehat merupakan langkah awal yang bisa dilakukan siapa saja.

“Baca Juga: Dampak Buruk Vape bagi Anak dan Remaja“

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *