RS Satria Medika – Menjaga pola tidur dan berat badan tidak hanya membantu tubuh tetap bugar. Kedua kebiasaan tersebut juga mendukung upaya menjaga kesehatan payudara.
Menurut The Times of India, beberapa faktor gaya hidup dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Faktor tersebut mencakup kurang tidur, stres berkepanjangan, dan obesitas sentral.
Obesitas sentral berarti penumpukan lemak yang banyak terjadi di sekitar perut. Kondisi ini juga dapat memengaruhi kesehatan metabolisme tubuh.
“Baca Juga: Softlens Tersangkut? Ini Cara Aman Melepasnya“
Kurang Tidur Dapat Memengaruhi Risiko Kanker Payudara
Dokter Shubham Garg, Direktur Surgical Oncology Dharamshila Narayana Hospital, Delhi, menjelaskan hubungan tidur dan kanker payudara.
Menurutnya, sejumlah penelitian terus menemukan kaitan antara gangguan tidur dan peningkatan risiko kanker payudara.
Kurang tidur dapat mengganggu produksi melatonin dan keseimbangan hormon estrogen. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh.
Selain itu, tubuh membutuhkan tidur untuk menjalankan proses perbaikan sel dan DNA. Karena itu, kualitas tidur juga memiliki peran penting.
Namun, kurang tidur tidak secara langsung menyebabkan kanker payudara. Risiko dapat meningkat ketika kondisi tersebut muncul bersama faktor lainnya.
Misalnya, obesitas, stres kronis, kurang aktivitas fisik, dan pola hidup tidak sehat dapat meningkatkan risiko tersebut.
Lemak Perut Memiliki Dampak bagi Kesehatan
Selain berat badan, perempuan juga perlu memperhatikan jumlah lemak yang menumpuk di sekitar perut.
Lemak viseral berada di sekitar organ tubuh dan memiliki aktivitas biologis yang tinggi. Lemak tersebut dapat menghasilkan zat pemicu peradangan.
Selain itu, lemak viseral dapat meningkatkan resistensi insulin dan memengaruhi produksi estrogen. Karena itu, penumpukan lemak perut perlu mendapat perhatian.
Risiko tersebut menjadi semakin penting setelah perempuan memasuki masa menopause. Pada masa itu, jaringan lemak menghasilkan sebagian besar estrogen tubuh.
Peningkatan kadar estrogen dapat mendorong pertumbuhan kanker payudara yang sensitif terhadap hormon tersebut.
Karena itu, perempuan dapat memantau lingkar pinggang sebagai salah satu indikator kesehatan metabolik. Ukuran tersebut dapat membantu melihat penumpukan lemak perut.
Gaya Hidup Sehat Membantu Menjaga Kesehatan Payudara
Perubahan gaya hidup memang tidak dapat menghilangkan risiko kanker payudara sepenuhnya. Namun, kebiasaan sehat dapat membantu menurunkan risikonya.
Pertama, usahakan tidur cukup setiap malam dan pertahankan jadwal tidur secara teratur. Kebiasaan tersebut membantu menjaga ritme alami tubuh.
Selanjutnya, lakukan aktivitas fisik secara rutin untuk membantu menjaga berat badan. Olahraga juga dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi peradangan.
Selain itu, kelola stres dengan cara yang sehat. Stres berkepanjangan dapat meningkatkan hormon kortisol dan mengganggu keseimbangan tubuh.
Perempuan juga perlu memperhatikan pola makan sehari-hari. Pilih makanan bergizi dan batasi konsumsi makanan tinggi gula serta lemak berlebih.
Kenali Faktor Risiko Sejak Dini
Kanker payudara kini semakin banyak ditemukan pada perempuan berusia 35 hingga 50 tahun. Berbagai faktor dapat memengaruhi peningkatan risiko tersebut.
Faktor genetik menjadi salah satu penyebab penting. Namun, gaya hidup kurang aktif, obesitas sentral, kurang tidur, dan stres juga perlu diperhatikan.
Selain itu, usia saat hamil dan durasi menyusui dapat ikut memengaruhi risiko kanker payudara.
Meski begitu, faktor tersebut tidak berarti seseorang pasti mengalami kanker payudara. Setiap perempuan memiliki kondisi dan tingkat risiko yang berbeda.
Karena itu, lakukan pemeriksaan payudara sesuai usia, kondisi, dan faktor risiko masing-masing. Dokter dapat menentukan jenis pemeriksaan yang sesuai.
Dengan begitu, perempuan dapat mengenali perubahan tubuh lebih awal. Langkah tersebut membantu menjaga kesehatan payudara dan mendukung deteksi dini.
“Baca Juga: Kolesterol Tinggi? Ini Waktu dan Menu Sarapan yang Tepat“