Gangguan Kecemasan Anak Korban Bencana Sumatera Alaminya

RS Satria Medika – Bencana hidrometeorologis di Sumatera berdampak besar pada kesehatan anak.
Selain luka fisik, banyak anak mengalami gangguan mental setelah bencana.

Anak menjadi kelompok paling rentan dalam situasi darurat.
Oleh karena itu, penanganan pascabencana perlu menyentuh aspek fisik dan mental.

“Baca Juga: Spinal Neuronavigation Tingkatkan Keamanan Bedah Tulang Belakang“

IDAI Gelar Program Trauma Healing Anak

Ikatan Dokter Anak Indonesia bekerja sama dengan psikolog anak menggelar program trauma healing.
Program ini bertujuan memulihkan kondisi mental anak korban bencana.

Dokter anak memberikan pendampingan secara langsung dan berkelanjutan.
Pendekatan ini membantu anak kembali beraktivitas secara normal.

Gangguan Tidur Dominasi Keluhan Anak

Ketua IDAI Sumatera Barat, Asrawati, menyoroti tingginya gangguan tidur pada anak.
Ia menyampaikan temuan tersebut dalam pertemuan virtual pada 22 Desember 2025.

IDAI Sumbar melakukan skrining pada 61 anak terdampak bencana.
Anak-anak tersebut berusia antara 3 hingga 18 tahun.

Hasil skrining menunjukkan 40 anak mengalami gangguan tidur.
Artinya, sekitar 65 persen anak mengalami masalah tersebut.

Sebaliknya, 21 anak tidak menunjukkan keluhan tidur.
Data ini menegaskan dampak psikologis bencana cukup serius.

IDAI Temukan Gangguan Kecemasan Anak

Selain gangguan tidur, IDAI juga menemukan indikasi kecemasan.
Tim melakukan skrining pada 15 anak di lokasi yang sama.

Dua anak teridentifikasi mengalami gangguan kecemasan.
Satu anak mengalami gangguan panik.

Satu anak lainnya mengalami kecemasan umum dan kecemasan perpisahan.
Mayoritas anak tidak memenuhi kriteria gangguan kecemasan.

Namun, temuan ini tetap memerlukan pemantauan lanjutan.
Pendampingan mental membantu mencegah trauma berkepanjangan.

Trauma Healing Juga Dilakukan di Aceh Tengah

Upaya pemulihan mental tidak hanya berlangsung di Sumatera Barat.
IDAI juga menggelar trauma healing di Aceh Tengah.

Program ini menyasar anak-anak dari 10 daerah terisolasi.
Wilayah tersebut memiliki akses dan medan yang sulit.

Kegiatan ini melibatkan kolaborasi lintas profesi.
Tim terdiri dari IDAI, Ikatan Dokter Indonesia, apoteker, dan psikolog klinis.

Hingga kini, tim telah menjangkau sekitar 580 anak pengungsi.
Pendampingan dilakukan langsung di lokasi pengungsian.

Perwakilan IDAI Aceh, Sulasmi, menjelaskan kondisi lapangan cukup menantang.
Namun, tim tetap berupaya menjangkau seluruh anak terdampak.

Pendekatan Kreatif Dokter Anak Dinilai Efektif

Ketua IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, mengapresiasi peran dokter anak.
Ia menilai dokter anak mampu membangun kedekatan dengan anak.

Dokter sering mengajak anak bermain bersama.
Mereka juga membuat mainan sederhana dari kertas.

Pendekatan ini membuat anak merasa aman dan nyaman.
Perlahan, anak mulai pulih dari tekanan psikologis.

Kematangan Mental Pengaruhi Pemulihan Trauma

Piprim menekankan pentingnya kesiapan mental anak.
Anak dengan kematangan psikologis lebih baik pulih lebih cepat.

Sebaliknya, anak dengan kesiapan rendah berisiko trauma lebih berat.
Karena itu, pendampingan perlu menyesuaikan usia dan perkembangan anak.

Penanganan pascabencana tidak cukup fokus pada fisik.
Kesehatan mental anak memerlukan perhatian yang sama serius.

Dengan pendekatan tepat, anak dapat kembali tumbuh sehat.
Trauma healing menjadi bagian penting dari pemulihan pascabencana.

“Baca Juga: Vidi Aldiano Ungkap 6 Tahun Berjuang Melawan Kanker Ginjal“

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *