RS Satria Medika – BPOM menerbitkan izin edar pertama untuk obat generik dydrogesterone di Indonesia. Kehadiran obat generik ini memberi alternatif terapi yang lebih ekonomis bagi pasien dengan gangguan kesuburan. Pasangan yang menjalani program kehamilan, termasuk bayi tabung (IVF), kini memiliki pilihan obat yang lebih terjangkau.
“Baca Juga: Tips Aman Berolahraga Outdoor Saat Musim Hujan“
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menjelaskan strategi lembaganya dalam mempercepat akses obat inovatif. Ia menyampaikan bahwa BPOM terus memperbaiki proses registrasi obat untuk memperluas ketersediaan terapi baru. Taruna menegaskan bahwa BPOM ingin meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui regulasi yang lebih adaptif.
Taruna juga menekankan bahwa BPOM tetap menjaga keamanan, khasiat, dan mutu obat sesuai standar internasional. BPOM ingin mempercepat persetujuan obat sambil memastikan seluruh produk memenuhi regulasi.
Industri Apresiasi Langkah BPOM
Direktur Utama PT Dexa Medica, V. Hery Sutanto, menyampaikan apresiasi terhadap BPOM. Ia mengucapkan terima kasih atas pendampingan BPOM selama proses registrasi dydrogesterone generik. Hery menegaskan bahwa nomor izin edar tersebut menunjukkan kepercayaan BPOM terhadap kualitas produk mereka.
Menurut Hery, kehadiran obat generik ini menunjukkan sinergi yang baik antara industri dan regulator. Ia menilai bahwa BPOM memberikan panduan teknis yang jelas dan melakukan pemantauan ketat terhadap mutu dan keamanan produk. Hery menilai regulasi yang baik akan mendorong inovasi obat yang bermanfaat bagi masyarakat.
Infertilitas Masih Menjadi Masalah Besar di Indonesia
WHO melaporkan bahwa sekitar satu dari enam orang dewasa di dunia mengalami infertilitas. Angka itu setara dengan 17,5 persen populasi global. Data Kementerian Kesehatan pada 2022 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 4 sampai 6 juta pasangan dengan infertilitas.
Infertilitas terbagi menjadi dua kategori. Kesehatan Infertilitas primer terjadi ketika pasangan belum pernah mengalami kehamilan. Infertilitas sekunder terjadi ketika pasangan sulit hamil kembali setelah memiliki anak. Penyebab infertilitas dapat berasal dari beberapa faktor.
Sekitar 20–30 persen kasus berasal dari faktor fisiologis pada pria. Sekitar 20–35 persen kasus terjadi karena faktor pada wanita. Lalu 25–40 persen kasus muncul karena gangguan pada kedua pasangan. Sisanya, sekitar 10–20 persen, tidak memiliki penyebab jelas atau tergolong unexplained infertility.
Dydrogesterone Menjadi Pilihan Terapi yang Lebih Ekonomis
Dydrogesterone merupakan obat hormon yang sering diresepkan dokter untuk membantu pengaturan hormon terkait infertilitas. Obat ini sudah digunakan sejak tahun 1960 di berbagai negara. Dydrogesterone bekerja dengan cara yang mirip dengan progesteron alami dalam tubuh.
Dydrogesterone tersedia dalam bentuk tablet oral sehingga memudahkan pasien mengonsumsi obat secara rutin. Bentuk oral meningkatkan kenyamanan dan kepatuhan pasien selama terapi. Akses yang lebih mudah juga memberikan harapan baru bagi pasangan yang menjalani program kehamilan.
Hery menjelaskan bahwa efektivitas dydrogesterone generik harus setara dengan produk originator. Ia menegaskan bahwa uji bioekuivalensi menjadi syarat penting sebelum obat generik dipasarkan. Uji ini memastikan obat generik memiliki efektivitas dan keamanan yang sama dengan produk aslinya.
Jika obat generik terbukti bioekuivalen, maka obat tersebut layak menjadi alternatif terapi. Harga yang lebih ekonomis dapat meningkatkan akses dan peluang keberhasilan terapi infertilitas. Hery berharap dydrogesterone generik dapat menjadi solusi nyata bagi pasangan yang membutuhkan terapi hormonal.
“Baca Juga: Mineral yang Turunkan Risiko Depresi dan Gangguan Mental“