Awas! Fibrilasi Atrium Bisa Tingkatkan Risiko Stroke

RS Satria Medika – Stroke masih menjadi salah satu penyakit paling mematikan di Indonesia.
Penyakit ini tidak hanya menyebabkan kematian, tetapi juga memicu disabilitas jangka panjang.
Yang mengkhawatirkan, serangan stroke bisa muncul kapan saja tanpa memandang usia maupun jenis kelamin.

Data dari Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan bahwa prevalensi stroke mencapai 8,3 per 1.000 penduduk.
Penyakit ini menyumbang 18,5 persen dari total kematian nasional dan 11,2 persen dari kasus kecacatan di Indonesia.
Kondisi ini menandakan bahwa stroke masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

“Baca Juga: Rahasia Latihan Intensitas Rendah Jennifer Aniston di Usia 50-an“


Fibrilasi Atrium, Pemicu Stroke yang Sering Terlupakan

Salah satu pemicu stroke yang sering tidak disadari adalah Atrial Fibrilasi (AFib) atau fibrilasi atrium.
Kondisi ini menyebabkan detak jantung menjadi tidak teratur dan meningkatkan risiko stroke serta penyakit jantung.
Banyak penderita AFib yang tidak menyadari gejalanya karena sering kali terasa ringan.

Ahli saraf dari RS Brawijaya Saharjo, dr. Zicky Yombana Babeheer, menjelaskan hal ini dalam acara Beware of Your AFib, Push The Stroke Away pada 22 Oktober 2025 di Jakarta.
Ia menegaskan bahwa Atrial Fibrilasi meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat.
“AFib sering tidak disadari karena gejalanya ringan atau bahkan tidak terasa. Namun, risikonya sangat tinggi,” ujarnya.

Selain itu, hipertensi juga berperan besar dalam meningkatkan risiko stroke.
Tekanan darah tinggi bisa merusak pembuluh darah dan mengganggu ritme jantung.
Kombinasi hipertensi dan AFib bisa menjadi penyebab utama stroke berat pada banyak pasien.


Penyebab dan Jenis Stroke yang Umum Terjadi

Menurut dr. Zicky, sekitar 85 persen kasus stroke terjadi akibat penyumbatan darah di otak.
Kondisi ini dikenal sebagai kardio emboli, yaitu gumpalan darah yang menghambat suplai oksigen ke otak.
Jika tidak segera ditangani, dua pertiga bagian otak bisa berhenti berfungsi.

Sementara itu, 15 persen kasus lainnya disebabkan oleh perdarahan otak.
Jenis ini juga berbahaya karena kebocoran darah dapat menekan jaringan otak dan memicu kerusakan permanen.
Keduanya sama-sama membutuhkan penanganan cepat dan tepat agar pasien dapat bertahan dan pulih.


Faktor Risiko yang Bisa Dikendalikan dan Tidak Bisa Diubah

dr. Zicky menjelaskan bahwa risiko stroke terbagi menjadi dua kategori.
Faktor yang tidak bisa diubah meliputi usia, jenis kelamin, riwayat stroke, dan faktor genetik.
Sedangkan faktor yang bisa dikendalikan mencakup hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, asam urat, kekentalan darah, serta gaya hidup tidak sehat.

Ia juga menyoroti meningkatnya kasus stroke pada usia muda.
Gaya hidup modern dengan pola makan tinggi garam, lemak, dan konsumsi makanan cepat saji meningkatkan risiko sindrom metabolik.
Kondisi ini mengganggu aliran darah dan berpotensi memicu stroke dini.


Penanganan Cepat Menentukan Kesembuhan Pasien

dr. Zicky menegaskan pentingnya penanganan cepat bagi penderita stroke.
Pasien harus segera dibawa ke rumah sakit maksimal dalam 4,5 jam setelah gejala muncul.
Penanganan dini dapat menentukan keberhasilan pemulihan dan mencegah komplikasi serius.

Ia menjelaskan tiga langkah penting dalam perawatan stroke.
Pertama, dokter harus memperbaiki aliran darah menuju otak secepat mungkin.
Kedua, pasien perlu menjalani fisioterapi dini agar tidak mengalami kekakuan otot.
Ketiga, pasien harus menjaga tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol untuk mencegah serangan berikutnya.


Deteksi Dini Jadi Kunci Pencegahan Stroke

Dalam rangka Hari Stroke Sedunia yang jatuh pada 29 Oktober 2025, Omron Healthcare Indonesia memperkenalkan alat tensimeter HEM-7383T1.
Alat ini mampu mendeteksi potensi Atrial Fibrilasi (AFib) sejak dini.
Langkah ini diharapkan membantu masyarakat mencegah stroke sebelum gejalanya muncul.

Direktur Omron Healthcare Indonesia, Tomoaki Watanabe, menekankan pentingnya deteksi dini.
“Setiap detik sangat berarti bagi otak. Kami berharap semakin banyak keluarga di Indonesia dapat terhindar dari risiko stroke,” ujarnya.


Kesimpulan: Cegah Stroke dengan Gaya Hidup Sehat dan Deteksi Dini

Stroke dapat menyerang siapa saja, tetapi risiko dapat ditekan dengan gaya hidup sehat dan pemeriksaan rutin.
Mengontrol tekanan darah, menghindari stres, serta rajin berolahraga menjadi langkah utama untuk menjaga kesehatan otak.

dr. Zicky menegaskan bahwa kesadaran menjadi kunci pencegahan terbaik.
Dengan mengenali tanda-tanda awal dan melakukan deteksi dini, masyarakat dapat menghindari ancaman stroke yang bisa datang kapan saja.

“Baca Juga: Ashanty Ungkap Rahasia Diet Sehat dan Tubuh Langsing“

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *