Obat Diet Bisa Kurangi Massa Otot, Ini Temuannya

RS Satria Medika – Studi terbaru menyoroti dampak berbeda dari obat penurun berat badan terhadap tubuh. Peneliti menemukan bahwa penurunan berat badan tidak selalu meningkatkan kesehatan secara menyeluruh.

Laporan dari Reuters menjelaskan hasil analisis tersebut. Studi ini membandingkan dua obat populer dalam program penurunan berat badan.

“Baca Juga: Tas Selempang Berat Picu Skoliosis, Mitos atau Fakta?“


Semaglutide Dinilai Lebih Jaga Massa Otot

Peneliti meneliti obat berbahan semaglutide yang dipasarkan sebagai Wegovy. Obat ini dikembangkan oleh Novo Nordisk.

Selain itu, peneliti juga membandingkan tirzepatide dari Eli Lilly. Hasilnya menunjukkan perbedaan dalam menjaga massa tubuh tanpa lemak.

Semaglutide menunjukkan kemampuan lebih baik dalam mempertahankan massa otot. Sementara itu, tirzepatide cenderung menyebabkan penurunan massa tanpa lemak lebih besar.


Selisih Penurunan Massa Terlihat Sejak Awal

Peneliti menganalisis data dari ribuan pasien. Mereka mencatat pengguna tirzepatide kehilangan massa tanpa lemak sekitar 1,1 persen lebih banyak dalam tiga bulan.

Selain itu, selisih ini meningkat hingga sekitar 2 persen setelah satu tahun penggunaan. Perbandingan ini mengacu pada pengguna semaglutide.

Hasil ini menunjukkan bahwa efek obat dapat berbeda dalam jangka waktu pendek dan panjang.


Massa Otot Punya Peran Penting bagi Tubuh

Peneliti menegaskan bahwa massa otot berperan penting dalam kesehatan. Massa otot membantu menjaga kekuatan tubuh dan metabolisme.

Selain itu, massa otot mendukung daya tahan fisik dalam aktivitas harian. Oleh karena itu, penurunan berat badan tanpa menjaga otot bisa menimbulkan masalah.

Penurunan massa otot dapat menurunkan kualitas kesehatan secara keseluruhan. Hal ini menjadi perhatian utama dalam program diet modern.


Fokus Program Diet Harus pada Komposisi Tubuh

Peneliti menekankan bahwa angka timbangan bukan satu-satunya indikator keberhasilan. Mereka menilai komposisi tubuh lebih penting dalam jangka panjang.

Program penurunan berat badan harus menjaga keseimbangan antara lemak dan otot. Dengan cara ini, tubuh tetap kuat dan sehat.

Selain itu, hasil yang seimbang dapat membantu menjaga kebugaran lebih lama.


Risiko Lebih Besar pada Penurunan Berat Badan Ekstrem

Studi ini juga menyoroti risiko pada pasien dengan penurunan berat badan besar. Pasien yang kehilangan lebih dari 20 persen berat badan menunjukkan hasil berbeda.

Sekitar 10 persen pengguna tirzepatide mengalami penurunan massa tanpa lemak lebih dari 5 persen. Sementara itu, angka pada pengguna semaglutide berada di bawah 7 persen.

Perbedaan ini menunjukkan pentingnya pemilihan metode diet yang tepat.


Kurangnya Aktivitas Fisik Percepat Hilangnya Otot

Peneliti juga menemukan faktor lain yang memengaruhi hasil. Kurangnya aktivitas fisik selama terapi dapat mempercepat hilangnya massa otot.

Oleh karena itu, para ahli menyarankan olahraga rutin selama penggunaan obat. Aktivitas fisik membantu menjaga kekuatan otot dan keseimbangan tubuh.

Selain itu, olahraga dapat meningkatkan hasil penurunan berat badan secara sehat.


Tanggapan Perusahaan dan Kesimpulan Studi

Pihak Novo Nordisk tidak memberikan komentar khusus terkait studi ini. Namun, data uji klinis sebelumnya menunjukkan fungsi fisik tetap terjaga.

Sementara itu, Eli Lilly belum memberikan tanggapan hingga saat ini. Studi ini masih berada dalam tahap pra-publikasi.

Kesimpulannya, penggunaan obat diet perlu pertimbangan menyeluruh. Pengguna perlu memperhatikan dampak terhadap tubuh, bukan hanya angka berat badan.

“Baca Juga: Nutri-Level Tuai Pro Kontra, Efektifkah Tekan Gula?“

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *