Saraf Terjepit Bisa Terjadi di Usia Muda, Cek Faktanya

RS Satria Medika – Banyak orang mengira saraf terjepit hanya menyerang atlet atau pekerja berat. Padahal, orang yang jarang bergerak pun berisiko mengalami kondisi ini. Bahkan aktivitas seperti duduk terlalu lama sambil bermain ponsel bisa memicu gangguan saraf.

“Baca Juga: Spesifikasi dan Harga Galaxy S25 Edge Resmi di RI

Dokter spesialis saraf, dr. Irca Ahyar Sp.N, DFIDN dari DRI Clinic, menyebut saraf terjepit bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia dan profesi.

Penyebab Saraf Terjepit Bukan Sekadar Cedera

Saraf terjepit biasanya terjadi karena penyempitan pada ruas tulang belakang. Penyempitan itu menekan saraf di antara tulang. Ada dua penyebab utama kondisi ini, yakni trauma akut dan degenerasi jangka panjang.

Trauma bisa berasal dari jatuh terduduk, kecelakaan, atau olahraga ekstrem. Sementara degenerasi bisa berawal dari cedera masa kecil, misalnya jatuh dari pohon. Cedera ringan yang terjadi puluhan tahun lalu bisa berdampak saat dewasa.

Kebiasaan duduk terlalu lama di depan layar juga memperburuk kondisi tulang. Jika dilakukan terus-menerus, struktur tulang belakang bisa berubah. Genetik seperti skoliosis pun berperan memicu masalah ini, meski kadang tak langsung menimbulkan gejala.

Pegal Berulang Bisa Jadi Tanda Awal

Pegal atau nyeri di satu area tubuh yang tidak membaik bisa menjadi tanda awal saraf terjepit. Menurut dr. Irca, keluhan ini tak boleh diabaikan. Jika nyeri tetap terasa meski sudah istirahat atau dipijat, sebaiknya segera periksa ke dokter.

Gejala makin terasa seiring bertambahnya usia. Pada orang di atas 45 tahun, benturan ringan bisa menimbulkan rasa sakit karena otot sudah melemah.

Risiko Kelumpuhan Bila Terlambat Ditangani

Saraf yang terjepit bisa rusak jika terus dibiarkan. Dalam jangka panjang, kerusakan ini berpotensi menyebabkan kelumpuhan lokal.

Misalnya, bila saraf L3 terjepit, maka otot paha bagian luar bisa mengecil dan kehilangan fungsinya. Bahkan, kemampuan merasa pun bisa hilang. Luka di kaki mungkin tidak terasa sakit, sehingga bisa menyebabkan infeksi tanpa disadari.

Pemulihan Perlu Terapi yang Konsisten

Saraf terjepit tidak bisa sembuh dengan sendirinya. Pemulihan memerlukan terapi dan latihan otot secara konsisten.

Dr. Irca menekankan pentingnya tidak menghentikan terapi meski nyeri sudah hilang. Tulang yang belum stabil bisa kembali menjepit saraf dan menyebabkan nyeri kambuh.

Lakukan Deteksi Dini dan Jaga Postur Tubuh

Langkah pencegahan bisa dimulai dengan mengenali kemampuan tubuh. Hindari mengangkat beban berat jika otot belum terlatih. Otot yang tegang bisa menarik tulang dan menyempitkan celah antar ruas.

Dr. Irca juga menyarankan rutin melakukan peregangan dan skrining tulang sejak remaja. Deteksi sejak dini membantu mencegah komplikasi saat dewasa.

“Baca Juga: Rempah Anti-Aging Favorit Dokter: Kunyit hingga Jahe

Kesimpulan: Kenali Gejala dan Cegah Sejak Dini

Saraf terjepit bukan penyakit yang hanya menyerang orang tua. Siapa saja bisa mengalaminya jika tidak menjaga postur dan aktivitas tubuh. Kenali gejala awal, lakukan skrining, dan jalani terapi dengan disiplin agar tubuh tetap sehat dan aktif.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *