RS Satria Medika – Kementerian Kesehatan melaporkan perkembangan terbaru penanganan campak di Indonesia. Setelah meningkat pada awal tahun, jumlah kasus dan suspek campak mulai menurun sejak Februari 2026.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Andi Saguni, menyampaikan informasi tersebut dalam konferensi pers virtual. Ia menjelaskan bahwa tren kasus sempat naik tajam pada Januari.
Namun kemudian, data menunjukkan penurunan yang cukup jelas pada Februari.
“Tren kasus dan suspek campak meningkat pada Januari. Setelah itu, angka tersebut mulai menurun sepanjang Februari 2026,” ujar Andi.
“Baca Juga: Perjalanan Vidi Aldiano 6 Tahun Melawan Kanker Ginjal“
Lonjakan Kasus Terjadi pada Januari
Pada awal 2026, pemerintah mencatat peningkatan laporan kasus campak di berbagai wilayah. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan segera memperkuat pemantauan dan penanganan di daerah terdampak.
Data hingga minggu ke-8 tahun 2026 menunjukkan adanya 45 Kejadian Luar Biasa campak. Kasus tersebut terjadi di 29 kabupaten dan kota.
Wilayah tersebut tersebar di 11 provinsi di Indonesia. Selain itu, laporan juga mencatat jumlah suspek campak mencapai 10.453 kasus.
Meski jumlahnya cukup besar, pemerintah melihat arah perkembangan yang mulai membaik.
Tren Mingguan Menunjukkan Penurunan
Kementerian Kesehatan memantau perkembangan kasus setiap minggu. Berdasarkan laporan terbaru, tren mingguan menunjukkan penurunan kasus campak.
Andi menyebutkan bahwa laporan kematian memang bertambah satu kasus dibandingkan minggu sebelumnya. Namun secara keseluruhan, data tetap menunjukkan tren yang menurun.
“Terjadi penambahan satu kasus meninggal dibandingkan minggu ke-7. Namun tren keseluruhan masih menurun hingga minggu ke-8,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah terus memantau pergerakan kasus di wilayah yang terdampak.
Pemerintah Fokus Mengawasi 11 Provinsi
Kementerian Kesehatan terus memantau perkembangan kasus di 11 provinsi terdampak. Beberapa wilayah yang mendapat perhatian antara lain Sumatera Utara, Jawa Barat, dan Sulawesi Tengah.
Melalui pemantauan tersebut, pemerintah ingin menekan penyebaran campak lebih cepat. Selain itu, pemerintah juga mendorong penguatan layanan kesehatan di daerah.
Langkah ini membantu tenaga kesehatan menemukan kasus lebih cepat. Dengan demikian, petugas dapat segera melakukan penanganan.
Kasus Campak 2026 Lebih Rendah dari Tahun Sebelumnya
Menurut Andi, siklus campak memang menunjukkan peningkatan pada tahun 2025. Namun kondisi pada 2026 menunjukkan hasil yang lebih baik.
Data menunjukkan jumlah kasus pada Februari 2026 lebih rendah dibanding beberapa tahun sebelumnya.
“Kasus pada Februari 2026 relatif lebih rendah dibandingkan tahun 2025, 2024, dan 2023,” kata Andi.
Selain itu, penurunan kasus terlihat cukup konsisten di banyak daerah.
Beberapa provinsi yang sebelumnya mengalami lonjakan kini mulai menunjukkan kondisi yang lebih stabil.
Beberapa Wilayah Mulai Stabil
Andi mencontohkan kondisi di Sumatera Barat. Pada akhir 2025, provinsi tersebut mengalami peningkatan kasus campak.
Namun pada awal 2026, jumlah kasus mulai menurun secara bertahap.
Hal serupa juga terjadi di Sumatera Utara. Wilayah tersebut juga menunjukkan penurunan kasus hingga minggu ke-8 tahun 2026.
Meski demikian, pemerintah tetap mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah.
Pemerintah Minta Masyarakat Tetap Waspada
Kementerian Kesehatan meminta masyarakat tetap menjaga kewaspadaan terhadap campak. Penyakit ini memiliki pola peningkatan yang dapat muncul kembali.
Selain itu, peningkatan kasus dapat terjadi jika cakupan imunisasi menurun.
Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong penguatan imunisasi rutin di seluruh daerah.
Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap penularan campak dapat terus ditekan sepanjang tahun 2026.
“Baca Juga: 10 Faktor Risiko Kanker Ginjal yang Perlu Diwaspadai“