IBD, Penyakit Radang Usus Kronis yang Sering Terabaikan

RS Satria Medika – Kasus Inflammatory Bowel Disease atau IBD terus meningkat secara global dan nasional.
Namun, masyarakat masih minim pemahaman terhadap penyakit radang usus kronis ini.

Akibatnya, banyak pasien tidak mengenali gejala sejak awal.
Pasien sering datang berobat saat penyakit sudah berkembang lebih jauh.

Padahal, IBD bukan gangguan pencernaan biasa.
Penyakit ini bersifat kronis, progresif, dan membutuhkan penanganan jangka panjang.

“Baca Juga: Kebanyakan Protein Picu Masalah Kesehatan Tubuh“


IBD Sering Disalahartikan sebagai Gangguan Ringan

IBD merupakan peradangan kronis pada saluran cerna.
Kondisi ini muncul akibat interaksi faktor genetik, imun, lingkungan, dan bakteri usus.

IBD memiliki dua bentuk utama, yaitu Crohn’s disease dan ulcerative colitis.
Keduanya sering memunculkan gejala yang tidak spesifik.

Pasien kerap mengalami nyeri perut berulang dan diare berkepanjangan.
Selain itu, pasien juga bisa mengalami penurunan berat badan dan kelelahan.

Namun, banyak orang mengira gejala tersebut sebagai maag atau infeksi ringan.
Kesalahan persepsi ini sering menunda diagnosis yang seharusnya lebih cepat.


Diagnosis Terlambat Picu Risiko Komplikasi Serius

Keterlambatan diagnosis meningkatkan risiko perburukan kondisi pasien.
Pasien berisiko mengalami rawat inap berulang.

Selain itu, IBD dapat memicu perdarahan saluran cerna dan sumbatan usus.
Komplikasi lain mencakup fistula dan peningkatan risiko kanker usus besar.

Karena itu, diagnosis dini menjadi langkah yang sangat penting.
Deteksi awal membantu mencegah kerusakan jangka panjang pada usus.


Dokter Tekankan Diagnosis Harus Menyeluruh

Marcellus Simadibrata menegaskan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam diagnosis IBD.
Ia berpraktik sebagai dokter spesialis di RS Abdi Waluyo.

Dokter perlu menggabungkan evaluasi klinis dengan pemeriksaan lanjutan.
Pemeriksaan tersebut meliputi endoskopi dan analisis jaringan usus.

Selain itu, dokter harus membedakan IBD dari infeksi saluran cerna lain.
Di Indonesia, tuberkulosis usus masih sering menyerupai gejala IBD.

Menurut Prof Marcel, dokter juga harus memahami kondisi emosi dan keluhan pasien.
Pendekatan ini membantu dokter menentukan terapi yang paling sesuai.


Terapi Dini Tentukan Hasil Jangka Panjang

Setelah diagnosis, dokter perlu menentukan strategi terapi sejak awal.
Pendekatan yang tepat dapat mencegah komplikasi berat.

Prof Marcel menekankan pentingnya pendekatan treat-to-target.
Pendekatan ini tidak hanya fokus pada pengurangan gejala.

Dokter juga menargetkan penyembuhan lapisan usus dan pencegahan kerusakan.
Dengan cara ini, kualitas hidup pasien bisa meningkat secara signifikan.


Tren IBD di Asia Tenggara Terus Naik

Di Asia Tenggara, angka IBD memang masih lebih rendah dibanding negara Barat.
Namun, berbagai studi menunjukkan tren peningkatan yang konsisten.

Perubahan gaya hidup dan lingkungan ikut memengaruhi peningkatan tersebut.
Karena itu, sistem kesehatan perlu meningkatkan kesiapan layanan.

Dokter dan fasilitas kesehatan harus lebih waspada terhadap gejala awal.
Langkah ini membantu pasien mendapatkan terapi lebih cepat.


RS Abdi Waluyo Perkuat Edukasi dan Layanan IBD

RS Abdi Waluyo aktif meningkatkan pemahaman tentang IBD melalui forum ilmiah.
Salah satunya melalui acara IBD Update 2026 di Jakarta.

Forum ini mempertemukan pakar nasional dan regional.
Mereka membahas perkembangan terbaru diagnosis dan penanganan IBD.

Selain itu, rumah sakit ini membentuk Abdi Waluyo IBD Center.
Pusat ini menjadi layanan IBD pertama dengan konsep satu atap di Indonesia.

Pusat layanan ini menggabungkan diagnosis, terapi, dan pemantauan jangka panjang.
Pendekatan ini membantu pasien menjalani perawatan secara lebih terarah dan aman.

“Baca Juga: Kondisi Kesehatan Lucky Element Menurun Sebelum Wafat“

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *