RS Satria Medika – Sebagian besar pasien gagal ginjal di Indonesia masih memilih terapi hemodialisis atau cuci darah. Pasien jauh lebih mengenal metode ini dibandingkan terapi lain.
Padahal, pasien juga memiliki pilihan terapi lain seperti Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis atau CAPD.
CAPD memungkinkan pasien menjalani dialisis secara mandiri di rumah. Pasien hanya perlu datang ke rumah sakit sekitar satu kali setiap bulan untuk kontrol rutin.
Namun banyak pasien tidak mengetahui pilihan terapi tersebut sejak awal pengobatan.
“Baca Juga: 5 Gerakan Senam Jantung Sehat untuk Jaga Kesehatan Jantung“
Banyak Pasien Baru Mengetahui CAPD Setelah Bertahun-Tahun
Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia, Tony Richard Samosir, sering mendengar cerita serupa dari pasien.
Menurut Tony, banyak pasien baru mengetahui CAPD setelah bertahun-tahun menjalani hemodialisis.
Tony menjelaskan sekitar 98 persen pasien gagal ginjal di Indonesia langsung menjalani terapi hemodialisis.
Sementara itu, dokter atau fasilitas kesehatan belum selalu menjelaskan pilihan terapi lain secara lengkap.
Tony menilai kondisi tersebut menyangkut hak pasien dalam menentukan pengobatan.
Ia menegaskan pasien berhak menerima informasi lengkap sebelum memulai terapi.
“Bagi komunitas pasien, ini bukan hanya soal metode terapi, tetapi juga hak memilih pengobatan,” ujar Tony.
Penyakit Ginjal Kronik Sering Tidak Terdeteksi Sejak Awal
Penyakit ginjal kronik sering berkembang tanpa gejala yang jelas. Karena itu banyak orang tidak menyadari penyakit tersebut.
Banyak pasien baru mengetahui kondisi ginjal mereka ketika penyakit memasuki stadium lanjut.
Pada stadium empat atau lima, fungsi ginjal biasanya sudah menurun secara drastis.
Dalam kondisi tersebut, pasien memerlukan terapi dialisis atau transplantasi ginjal untuk bertahan hidup.
Data menunjukkan sekitar 90 persen pasien tidak menyadari penyakit ginjal yang mereka alami.
Jumlah penderita gagal ginjal kronik di Indonesia juga terus meningkat.
Pada 2023, jumlah pasien diperkirakan mencapai sekitar 1,5 juta orang.
Angka tersebut diprediksi terus bertambah dalam beberapa tahun mendatang.
Hemodialisis Masih Mendominasi Layanan Dialisis
Layanan dialisis di Indonesia masih didominasi terapi hemodialisis.
Selama periode 2022 hingga 2024, sekitar 134.057 pasien menjalani terapi ini.
Lonjakan jumlah pasien juga meningkatkan biaya layanan kesehatan.
BPJS Kesehatan menanggung biaya dialisis dalam jumlah besar setiap tahun.
Biaya layanan dialisis meningkat dari sekitar Rp6,5 triliun pada 2019.
Pada 2024, biaya tersebut naik menjadi sekitar Rp11 triliun.
Kenaikan tersebut menunjukkan semakin besar kebutuhan layanan dialisis di Indonesia.
CAPD Memberikan Fleksibilitas Bagi Pasien
CAPD menawarkan cara terapi yang berbeda dari hemodialisis.
Dalam metode ini, pasien memasukkan cairan khusus ke dalam rongga perut melalui kateter.
Cairan tersebut menyerap zat sisa dari darah selama beberapa jam.
Setelah itu, pasien mengeluarkan cairan tersebut dan menggantinya dengan cairan baru.
Pasien biasanya melakukan proses ini tiga hingga empat kali setiap hari.
Pasien dapat menjalankan terapi tersebut secara mandiri di rumah.
Karena itu, CAPD memberi fleksibilitas lebih besar bagi pasien.
Pasien masih dapat bekerja dan menjalani aktivitas harian dengan lebih leluasa.
Biaya CAPD dan Hemodialisis dalam Sistem BPJS
Pemerintah telah mengatur biaya terapi CAPD melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2023.
Tarif terapi ini sekitar Rp8 juta setiap bulan.
Biaya tersebut mencakup bahan medis, jasa pelayanan, dan distribusi logistik ke rumah pasien.
Sementara itu, biaya klaim BPJS untuk hemodialisis berkisar Rp820 ribu hingga Rp1,2 juta per sesi.
Pasien biasanya menjalani hemodialisis dua kali setiap minggu.
Total biaya klaim dapat mencapai Rp6,5 juta hingga Rp9,6 juta setiap bulan.
Biaya tersebut belum termasuk transportasi dan kebutuhan lain.
Edukasi Terapi Masih Menjadi Tantangan
Pemanfaatan CAPD di Indonesia masih tergolong rendah.
Pemerintah menargetkan sekitar 10 persen pasien dialisis menggunakan terapi ini.
Target tersebut menjadi bagian dari transformasi layanan kesehatan rujukan.
Pemerintah berharap CAPD dapat mengurangi ketergantungan pada mesin hemodialisis.
Selain itu, terapi berbasis rumah dapat mengurangi kepadatan fasilitas kesehatan.
Namun Tony menilai kurangnya edukasi masih menjadi kendala utama.
Di beberapa negara lain, pasien mendapat penjelasan lengkap sebelum memulai dialisis.
Pasien dapat memilih metode yang paling sesuai dengan kondisi mereka.
Di Indonesia, proses edukasi tersebut belum selalu tersedia.
Akibatnya, banyak pasien hanya mengetahui hemodialisis sebagai satu-satunya pilihan.
Pasien Perlu Terlibat dalam Menentukan Terapi
Tony menegaskan pasien gagal ginjal biasanya menjalani dialisis sepanjang hidup.
Karena itu pasien perlu memahami semua pilihan terapi yang tersedia.
Pasien juga perlu terlibat aktif dalam menentukan metode pengobatan.
“Pasien tidak boleh hanya menjadi objek pengobatan. >Pasien harus memahami pilihan terapi,” ujar Tony.
Momentum World Kidney Day 2026 menjadi kesempatan penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
Tema tahun ini menekankan pentingnya menjaga kesehatan ginjal bagi semua orang.
Selain itu, edukasi mengenai pilihan terapi juga perlu diperkuat.
Dengan informasi yang jelas, pasien dapat menentukan terapi yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Baca Juga: 5 Gerakan Senam Jantung Sehat untuk Jaga Kesehatan Jantung“