RS Satria Medika – Bahaya Doomscrolling: Dalam beberapa pekan terakhir, media sosial dan portal berita dipenuhi kabar buruk. Mulai dari banjir di Bali, konflik politik, hingga masalah ekonomi. Pembaca tidak memiliki waktu jeda untuk mencerna semua informasi yang menguras emosi tersebut. Teknologi canggih justru membuat masyarakat terus terpapar berita negatif tanpa henti.
Fenomena ini dikenal dengan istilah doomscrolling. Kebiasaan terus-menerus membaca berita buruk membawa dampak serius terhadap kesehatan mental.
“Baca Juga: Bahaya Kesehatan Pasca Banjir: 6 Penyakit Mengintai“
Dampak Psikologis Doomscrolling
Akses tanpa batas terhadap berita negatif dapat memicu kecemasan berlebih dan depresi. Menurut artikel Wired, doomscrolling membuat seseorang merasa stres dan tidak berdaya.
Matthew Price, profesor psikologi dari Universitas Vermont, menjelaskan terlalu banyak berita negatif bisa menimbulkan kecemasan dan depresi. Dampak ini mungkin hanya sementara pada orang sehat. Namun, kondisi akan lebih buruk pada individu dengan riwayat kecemasan, depresi, atau PTSD. Paparan berita negatif bisa memperparah masalah mereka.
Price menambahkan, ketika seseorang melakukan doomscrolling, mereka merasa mencari solusi. Mereka membaca lebih banyak artikel dan postingan, berharap informasi tambahan memberi pemahaman. Namun, semakin banyak yang dibaca, semakin berat pula beban mentalnya.
Dampak Fisik dari Doomscrolling
Kebiasaan ini tidak hanya memengaruhi pikiran, tetapi juga tubuh. Paparan berita traumatis, seperti kekerasan polisi saat unjuk rasa, dapat memicu stres fisik.
Roxane Cohen Silver, profesor psikologi dari University of California, Irvine, menyebut berita negatif berulang bisa meningkatkan detak jantung, tekanan darah, dan kadar kortisol. Kortisol adalah hormon stres yang berlebihan dapat melelahkan tubuh. Ketika paparan berlangsung terus-menerus, sistem tubuh menjadi terkuras.
Cara Mengurangi Dampak Doomscrolling
Untungnya, doomscrolling bisa dikendalikan dengan langkah sederhana. Membatasi diri menjadi cara pertama yang paling efektif. Tetapkan waktu khusus untuk membaca berita, misalnya 15–20 menit di pagi atau sore hari. Setelah itu, hindari membuka berita pada waktu lain.
Selain itu, diversifikasi sumber berita agar tidak terjebak dalam algoritma media sosial. Pilih sumber yang terpercaya dan menyajikan informasi secara seimbang. Dengan begitu, Anda bisa melihat masalah dari berbagai sudut tanpa terjebak pada konten yang sama.
Fokus pada Hal-Hal Positif
Mengalihkan perhatian ke aktivitas positif juga penting. Anda bisa mengisi waktu dengan hobi, berolahraga, atau menghabiskan waktu bersama orang terdekat. Aktivitas ini membantu menjaga keseimbangan mental dan memberi energi baru.
Selain itu, mencari berita positif atau inspiratif juga dapat menyeimbangkan emosi. Misalnya, membaca kisah keberhasilan orang lain atau kabar baik dari berbagai bidang.
Bahaya Doomscrolling: Bijak dalam Mengonsumsi Informasi
Doomscrolling adalah kebiasaan yang tampak sepele, tetapi membawa dampak besar pada kesehatan mental dan fisik. Dengan membatasi waktu membaca berita, memilih sumber yang seimbang, serta mengalihkan perhatian ke hal positif, Anda bisa melindungi diri dari dampak buruknya. Ingatlah bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan tubuh.
“Baca Juga: Strategi Efektif Atasi Burnout dan Jaga Kesehatan Mental“