Aritmia Jantung Bisa Picu Stroke, Dokter Ingatkan Risiko

RS Satria Medika – Gangguan irama jantung atau aritmia perlu mendapat perhatian serius dari masyarakat. Kondisi ini dapat memicu komplikasi berbahaya, termasuk stroke.

Salah satu jenis aritmia yang paling sering terjadi adalah fibrilasi atrium atau AF. Kondisi ini membuat irama jantung berdetak tidak teratur.

Dokter spesialis jantung dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP menjelaskan bahwa jumlah penderita fibrilasi atrium di Indonesia cukup besar. Bahkan penelitian terbaru menunjukkan angka yang cukup tinggi.

Penelitian tersebut memanfaatkan teknologi gadget seperti smartwatch di sejumlah kota besar. Hasil penelitian menunjukkan sekitar 3,2 persen masyarakat mengalami fibrilasi atrium.

Angka tersebut terlihat kecil. Namun jumlah itu menjadi sangat besar jika dihitung dari total populasi Indonesia.

“Baca Juga: Jonathan Frizzy Terapkan Diet Sehat, Makan 8 Telur Sehari“

Lebih dari 7 Juta Orang Indonesia Mengalami AF

dr. Yoga Yuniadi menjelaskan bahwa jumlah penderita AF bisa mencapai jutaan orang. Perhitungan tersebut menggunakan data jumlah penduduk Indonesia.

Jika menggunakan jumlah populasi Indonesia pada 2023, maka jumlah penderita AF mencapai lebih dari 7 juta orang. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa gangguan ini tidak bisa dianggap sepele.

Ia menegaskan bahwa angka tersebut sangat besar untuk sebuah gangguan irama jantung. Oleh karena itu masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan.

Selain itu, banyak penderita tidak menyadari kondisi tersebut. Hal ini terjadi karena sebagian orang tidak merasakan gejala yang jelas.

Fibrilasi Atrium Dapat Meningkatkan Risiko Stroke

Fibrilasi atrium dapat memicu terbentuknya gumpalan darah di jantung. Gumpalan tersebut biasanya terbentuk di serambi kiri jantung.

Ketika gumpalan darah terlepas, aliran darah dapat membawanya menuju otak. Kondisi tersebut kemudian dapat menyumbat pembuluh darah otak.

Akibatnya seseorang dapat mengalami stroke. Risiko stroke pada penderita AF bahkan jauh lebih tinggi.

Selama ini para dokter memperkirakan risiko stroke pada penderita AF mencapai lima kali lebih tinggi. Namun data terbaru menunjukkan risiko tersebut dapat meningkat hingga sepuluh kali lipat.

Selain itu, stroke akibat fibrilasi atrium biasanya lebih berat. Banyak pasien mengalami kecacatan atau bahkan meninggal dunia.

Deteksi Dini Menjadi Langkah Penting Mencegah Komplikasi

Para ahli menilai deteksi dini sebagai langkah penting untuk mencegah komplikasi serius. Masyarakat dapat melakukan pemeriksaan sederhana secara mandiri.

Salah satu cara yang mudah yaitu meraba denyut nadi sendiri. Metode ini dikenal dengan istilah MENARI.

Masyarakat dapat meraba denyut nadi selama 30 detik. Setelah itu, masyarakat dapat mengalikan hasilnya dengan dua untuk mengetahui jumlah denyut per menit.

Selain menghitung jumlah denyut, masyarakat juga perlu memperhatikan irama denyut tersebut. Irama yang terasa tidak teratur dapat menjadi tanda gangguan irama jantung.

Teknologi Smartwatch Juga Membantu Mendeteksi Gangguan Irama Jantung

Selain metode manual, teknologi juga dapat membantu proses deteksi dini. Smartphone dan smartwatch kini memiliki fitur pemantau detak jantung.

Perangkat tersebut dapat memberikan peringatan jika muncul irama jantung yang tidak normal. Namun masyarakat tetap perlu melakukan pemeriksaan medis.

Dokter biasanya menggunakan pemeriksaan elektrokardiogram atau EKG untuk memastikan diagnosis. Oleh karena itu masyarakat tidak boleh hanya mengandalkan perangkat digital.

Para ahli juga menyarankan pemeriksaan mulai usia 40 tahun. Terlebih lagi bagi masyarakat yang memiliki faktor risiko.

Faktor risiko tersebut meliputi hipertensi, diabetes, gagal jantung, atau keluhan jantung berdebar. Pemeriksaan rutin dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih berbahaya.

“Baca Juga: Pil KB untuk Laki-Laki: Cara Kerja dan Keamanannya“

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *