RS Satria Medika – Sarapan sebelum beraktivitas sudah menjadi kebiasaan banyak masyarakat Indonesia.
Namun, gaya hidup modern membuat sebagian orang sering melewatkannya.
Padahal, sarapan penting untuk menjaga energi, fokus, dan suasana hati sepanjang pagi.
Ahli gizi menjelaskan bahwa sarapan bergizi tinggi protein, karbohidrat, dan lemak sehat membantu menstabilkan gula darah.
Kombinasi itu juga menjaga rasa kenyang lebih lama dan mencegah kelelahan.
Sebaliknya, sereal manis bisa menyebabkan lonjakan gula darah yang membuat tubuh cepat lelah dan sulit fokus.
“Baca Juga: Rahasia Sehat: Manfaat Rutin Makan Apel Setiap Hari“
Alasan Banyak Orang Melewatkan Sarapan
Nutritional therapist Natalie Burrows mengatakan, seseorang sebaiknya memahami alasan mengapa mereka tidak lapar di pagi hari.
Menurutnya, banyak orang melewatkan sarapan karena menggantinya dengan kopi.
“Jika kamu menutupi rasa lapar dengan kopi, itu bukan cara yang baik untuk memulai hari,” kata Burrows.
Ia menegaskan bahwa kafein tidak memberi energi nyata bagi tubuh, melainkan hanya merangsang saraf dan kelenjar adrenal.
Kondisi ini memicu pelepasan adrenalin, yang memberi dorongan energi semu.
Burrows menyarankan untuk menunda minum kopi hingga setelah sarapan.
Dengan begitu, kadar adrenalin dan hormon kortisol tetap seimbang sehingga tubuh lebih siap beraktivitas.
Selain itu, sebagian orang melewatkan sarapan karena ingin menurunkan berat badan.
Namun, penelitian di Spanyol menemukan bahwa orang yang sedang diet tetap perlu sarapan.
Peneliti merekomendasikan asupan 500–750 kalori untuk pria dan 400–600 kalori untuk wanita saat sarapan.
Jumlah itu membantu menjaga metabolisme tetap aktif dan mencegah rasa lapar berlebihan di siang hari.
Dampak Negatif Melewatkan Sarapan
Sarapan sehat tidak hanya bermanfaat bagi fisik, tetapi juga untuk kesehatan mental.
Sebuah penelitian pada Februari 2025 menunjukkan bahwa sarapan sebelum pukul 09.00 dapat menurunkan risiko depresi secara signifikan.
Para ilmuwan menemukan, orang yang makan setelah pukul 09.00 memiliki risiko 28 persen lebih tinggi mengalami suasana hati buruk dan masalah psikologis.
Kebiasaan melewatkan sarapan juga memengaruhi ritme sirkadian, yaitu jam biologis tubuh yang mengatur pola tidur, bangun, dan makan.
Nutritional therapist Cara Rose menjelaskan bahwa tubuh menjaga keseimbangan antara kortisol dan melatonin, dua hormon yang mengatur energi dan rasa kantuk.
Saat tidur, tubuh menggunakan cadangan gula dalam hati yang bertahan sekitar delapan jam.
Ketika cadangan habis, kortisol meningkat untuk menjaga energi tetap stabil.
Rose menambahkan bahwa melatonin menurun perlahan setelah bangun tidur, biasanya dalam waktu satu hingga dua jam.
Jika seseorang tidak merasa lapar di pagi hari, itu bisa menandakan tubuh masih berada di bawah pengaruh kortisol, yang sering terkait dengan stres.
Hubungan Stres dan Pola Makan Pagi
Penelitian menunjukkan bahwa stres kronis dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan mental seperti depresi.
Jika tidak merasa lapar karena stres, Rose menyarankan minum air hangat dengan jahe dan lemon untuk membantu fungsi hati dan menenangkan tubuh.
Setelah bangun tidur, cobalah melakukan latihan pernapasan dalam untuk menyeimbangkan hormon stres.
Rose merekomendasikan teknik “pernapasan kotak”, yaitu menarik napas empat detik, menahan empat detik, menghembuskan empat detik, lalu menahan lagi empat detik.
Latihan sederhana ini membantu menurunkan kadar kortisol dan membuat tubuh lebih siap menerima makanan.
Kunci Hidup Sehat Dimulai dari Sarapan
Sarapan bergizi setiap pagi merupakan langkah sederhana namun penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
Dengan pola makan seimbang dan kebiasaan hidup tenang, tubuh akan lebih bertenaga dan fokus menghadapi hari.
Mulailah hari dengan makanan sehat, bukan hanya secangkir kopi.
“Baca Juga: Waspadai Kanker Paru: Jenis dan Penyebab yang Perlu Diketahui“