Psikolog Ungkap Dampak Pernikahan Dini bagi Anak

RS Satria Medika – Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Phoebe Ramadina, M.Psi., menegaskan bahwa peran orang tua sangat penting dalam mencegah pernikahan dini pada anak. Ia menyampaikan bahwa orang tua harus terlibat dalam proses pengambilan keputusan besar anak, termasuk soal pernikahan.

“Baca Juga: 6 Eks Pejabat Antam Divonis 8 Tahun karena Cap Emas Ilegal

Orang tua sebaiknya menjelaskan kepada anak bahwa pernikahan menuntut kematangan mental dan kesiapan finansial. Anak juga perlu memahami bahwa keputusan menikah tidak bisa diambil secara terburu-buru hanya karena tekanan sosial.

Komunikasi Terbuka Jadi Kunci Utama

Phoebe menekankan pentingnya membangun komunikasi yang terbuka dan empatik di dalam keluarga. Ketika anak merasa aman berbagi masalah, orang tua bisa memberikan arahan yang bijak sebelum anak mengambil keputusan besar.

Ia mengingatkan bahwa tekanan sosial sering membuat anak merasa ingin cepat menikah. Dalam situasi seperti itu, peran orang tua untuk memberikan pertimbangan dan dukungan menjadi sangat penting.

Pentingnya Edukasi Kesehatan Reproduksi Sejak Dini

Selain komunikasi, Phoebe mendorong orang tua untuk memberikan edukasi kesehatan reproduksi sejak dini. Materi edukasi tersebut harus disesuaikan dengan usia anak dan disampaikan secara bertahap.

Menurut Phoebe, pemahaman tentang kesehatan reproduksi bisa menjadi langkah awal untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan. Ia menilai, banyak kasus pernikahan dini terjadi karena anggapan bahwa menikah adalah solusi tercepat atas kehamilan.

“Edukasi seksual komprehensif seharusnya dimulai dari keluarga. Ini bukan hal tabu jika disampaikan dengan cara yang benar dan sesuai usia,” ujarnya.

Konseling Jadi Solusi Jika Anak Ingin Menikah Terlalu Cepat

Phoebe menyarankan agar orang tua segera mencari bantuan psikolog jika anak menunjukkan niat impulsif untuk menikah. Konseling dapat membantu anak memahami dampak psikologis dari keputusan besar seperti pernikahan.

Ia menambahkan bahwa keluarga tidak perlu merasa harus menghadapi masalah ini sendiri. Dukungan dari profesional bisa memperkuat posisi keluarga dalam memberikan perlindungan dan bimbingan bagi anak.

“Baca Juga: Manfaat Pilates untuk Kesehatan Tubuh dan Jenis Latihannya

Keluarga Harus Jadi Garda Terdepan

Dengan pendekatan edukatif dan suportif, keluarga bisa menjadi pelindung utama bagi anak dari risiko pernikahan dini. Orang tua perlu berperan aktif dan membangun hubungan yang sehat dengan anak.

“Keluarga harus menjadi tempat aman bagi anak untuk bertumbuh, belajar, dan mengambil keputusan,” tutup Phoebe.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *