Efek Pernikahan Dini terhadap Kesehatan Ibu dan Bayi

RS Satria Medika – Pernikahan dini masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Masalah ini kerap terjadi di daerah dengan pendidikan rendah dan akses informasi kesehatan terbatas.

“Baca Juga: Korban Longsor Gunung Kuda Bertambah Jadi 16 Jiwa

Fenomena ini tak sekadar persoalan sosial. Kehamilan usia dini juga berdampak pada kesehatan fisik dan mental remaja, terutama perempuan.

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dr. Yassin Yanuar Mohammad, menegaskan bahwa kehamilan remaja sangat berisiko.

“Komplikasi kehamilan dan persalinan meningkat drastis jika dialami oleh remaja,” ujar Yassin saat dihubungi Kompas.com pada Jumat, 30 Mei 2025.

Menurutnya, kehamilan remaja turut menyumbang tingginya angka kematian ibu dan bayi di Indonesia.

Remaja Belum Siap Secara Biologis

Organ reproduksi remaja belum siap secara biologis untuk kehamilan. Remaja adalah individu berusia 10-19 tahun, sesuai definisi WHO.

Pada usia ini, rahim, panggul, dan sistem hormonal belum berkembang optimal untuk kehamilan dan persalinan.

Akibatnya, risiko medis meningkat. Yassin menyebutkan beberapa risiko umum seperti eklampsia, infeksi sistemik, perdarahan saat melahirkan, dan infeksi rahim pascamelahirkan.

Kehamilan remaja juga seringkali tidak direncanakan. Banyak kasus berujung pada aborsi tidak aman, yang dapat membahayakan nyawa remaja.

Dampak Jangka Panjang Kehamilan Usia Dini

Kehamilan remaja juga berdampak pada masa depan ibu dan anak. Bayi dari ibu remaja lebih rentan mengalami berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur.

Bayi juga lebih mudah terkena komplikasi neonatal seperti gangguan pernapasan atau infeksi. Sementara itu, sang ibu bisa mengalami stres berat atau depresi pascamelahirkan.

Tak sedikit remaja kehilangan akses pendidikan setelah hamil. Mereka juga sulit mendapat kesempatan kerja yang layak.

Kondisi ini menciptakan lingkaran kemiskinan dan memperburuk akses layanan kesehatan bagi keluarga muda.

Peran Edukasi dan Kebijakan Publik Tentang Pernikahan Dini

Untuk mengatasi pernikahan usia dini, semua pihak perlu ikut terlibat. Edukasi reproduksi wajib diberikan sejak usia sekolah.

Keluarga juga perlu berperan aktif mendampingi anak remaja memahami perubahan tubuh dan tanggung jawab sosial.

“Baca Juga: Tekanan Kerja Bisa Picu Depresi, Ini Kata Psikolog

Pemerintah harus memperkuat kebijakan perlindungan anak. Akses terhadap layanan kesehatan reproduksi juga harus ditingkatkan, terutama di daerah terpencil.

Pernikahan dini bukan hanya urusan budaya, tapi masalah kesehatan dan hak anak yang mendesak.

Dengan edukasi dan perlindungan yang tepat, risiko kehamilan remaja bisa dicegah. Masa depan generasi muda juga bisa lebih terjamin.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *