RS Satria Medika – Gawai dan gim online kini menjadi bagian dari kehidupan anak-anak. Namun, penggunaan berlebihan bisa menimbulkan dampak negatif yang serius. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan pentingnya mengatur screen time sesuai usia anak.
“Baca Juga: PM China Li Qiang Kunjungi Jakarta, Temui Prabowo Besok“
Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, mengatakan bahwa penggunaan gawai yang tidak terkendali bisa menyebabkan kecanduan. Anak juga berisiko menjadi korban perundungan, pelecehan seksual, dan manipulasi oleh predator daring.
“Predator online kerap menyamar sebagai teman sebaya untuk mendekati dan mengeksploitasi anak,” jelas Isyana. Oleh karena itu, orang tua harus aktif mengawasi penggunaan teknologi oleh anak-anak.
Rekomendasi Batas Screen Time Anak Berdasarkan Usia
Berikut batas screen time anak berdasarkan panduan IDAI:
- Usia di bawah 1 tahun: Tidak dianjurkan menggunakan layar.
- Usia 1-2 tahun: Hanya untuk video call dengan keluarga.
- Usia 2-6 tahun: Maksimal 1 jam per hari.
- Usia 6-12 tahun: Maksimal 1,5 jam per hari.
- Usia 12-18 tahun: Maksimal 2 jam per hari.
Tujuan pembatasan ini adalah menjaga kesehatan fisik dan mental anak. Waktu luang anak sebaiknya digunakan untuk aktivitas motorik, sosial, dan edukatif.
Peran Orang Tua dan Sekolah dalam Atur Screen Time
Ahli Tumbuh Kembang Pediatri Sosial, dr. Fitri Hartanto, mengatakan bahwa pengaturan screen time harus melibatkan orang tua, guru, dan lingkungan sekitar.
“Pemerintah perlu bekerja sama dengan psikolog dan pendidik untuk menyusun program edukatif yang mudah diakses,” kata dr. Fitri.
Orang tua bisa menanamkan disiplin digital melalui langkah berikut:
- Menyusun jadwal harian antara belajar, bermain, dan istirahat.
- Mengajak anak bermain di luar rumah secara rutin.
- Memberikan contoh positif dalam menggunakan gawai.
Gim dan gawai tidak bisa dihindari, tetapi bisa dikendalikan. Anak yang didampingi dan mendapat edukasi yang tepat akan tumbuh lebih sehat dan tangguh di era digital.
“Baca Juga: 4 Gaya Attachment dan Dampaknya pada Hubungan Sehat“
Batasi Layar, Dorong Aktivitas Fisik dan Sosial
Penggunaan gawai perlu seimbang dengan aktivitas fisik dan sosial. Anak sebaiknya lebih banyak melakukan kegiatan yang mendukung perkembangan emosi dan keterampilan motorik.
Dengan dukungan keluarga dan lingkungan, anak bisa tetap menikmati teknologi tanpa mengorbankan tumbuh kembangnya.