RS Satria Medika – Kasus bayi Alena yang meninggal dunia setelah disebut mengonsumsi telur mentah menarik perhatian publik. Peristiwa ini mengingatkan orang tua tentang pentingnya menjaga keamanan makanan bagi bayi dan anak.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau orang tua agar tidak memberikan telur mentah atau setengah matang kepada anak. Sebab, telur yang tidak matang sempurna berisiko mengandung bakteri Salmonella.
Bakteri tersebut dapat menyebabkan salmonelosis, yaitu infeksi saluran pencernaan. Karena itu, orang tua perlu memahami gejala, risiko, dan cara mencegah infeksi ini.
“Baca Juga: Kanker Langka: Fakta, Risiko, dan Tantangan Diagnosis“
1. Kenali Gejala Infeksi Salmonella pada Anak
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), menjelaskan risiko infeksi akibat konsumsi telur mentah. Menurut IDAI, infeksi Salmonella dapat menimbulkan diare, demam, nyeri perut, dan muntah.
Selain itu, diare dan muntah dapat membuat tubuh kehilangan banyak cairan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko dehidrasi, terutama pada bayi dan anak kecil.
IDAI juga mengingatkan bahwa infeksi pada kelompok usia tersebut dapat berkembang lebih berat. Bahkan, infeksi berisiko menimbulkan komplikasi serius jika anak tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Oleh karena itu, orang tua perlu memperhatikan kondisi anak setelah mengonsumsi makanan yang berisiko terkontaminasi. Jika anak mengalami gejala yang mengkhawatirkan, orang tua sebaiknya segera mencari bantuan medis.
2. Mengapa Telur Mentah Berisiko bagi Bayi?
Telur mengandung protein berkualitas tinggi serta berbagai zat gizi yang mendukung pertumbuhan anak. Namun, cara mengolah telur menentukan tingkat keamanan makanan tersebut.
Telur mentah atau setengah matang dapat membawa bakteri Salmonella. Jika anak mengonsumsi telur yang terkontaminasi, bakteri tersebut dapat memicu infeksi saluran pencernaan.
Karena itu, orang tua perlu memasak telur hingga matang sebelum menyajikannya kepada anak. Pastikan bagian putih dan kuning telur matang sempurna.
Proses pemasakan yang tepat juga membantu tubuh mencerna protein telur. Dengan demikian, orang tua tetap dapat memberikan manfaat gizi telur tanpa mengabaikan keamanan pangan.
3. Kapan Bayi Boleh Mengonsumsi Telur?
Orang tua dapat memperkenalkan telur sebagai salah satu bahan makanan pendamping ASI (MPASI). Namun, pemberian telur perlu mengikuti usia, kesiapan perkembangan, dan kebutuhan gizi bayi.
Selain itu, orang tua harus memastikan telur matang sempurna sebelum menyajikannya. Hindari memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi.
Untuk hidangan yang membutuhkan telur tanpa pemasakan sempurna, IDAI menyarankan penggunaan telur pasteurisasi sesuai standar keamanan pangan. Pasteurisasi merupakan proses pemanasan yang membantu mengurangi bakteri berbahaya.
Meski demikian, orang tua tetap perlu mengikuti petunjuk keamanan pangan saat menyiapkan hidangan untuk anak. Langkah ini membantu mengurangi risiko paparan bakteri dari makanan.
4. Cara Mencegah Kontaminasi Salmonella di Rumah
Orang tua dapat melakukan beberapa langkah sederhana untuk menjaga keamanan makanan anak. Pertama, masak telur hingga matang sebelum menyajikannya.
Kedua, cuci tangan sebelum menyiapkan makanan dan setelah memegang telur mentah. Ketiga, bersihkan peralatan masak agar bakteri tidak berpindah ke makanan lain.
Selanjutnya, pisahkan telur mentah dari makanan yang siap dikonsumsi. Simpan telur dengan benar dan ikuti petunjuk penyimpanan pada kemasan.
Terakhir, perhatikan kebersihan seluruh proses penyiapan MPASI. Kebiasaan tersebut membantu orang tua mengurangi risiko kontaminasi silang di dapur.
5. Kapan Orang Tua Perlu Membawa Anak ke Dokter?
Orang tua perlu segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika bayi mengalami diare, muntah, atau demam setelah mengonsumsi makanan berisiko. Jangan menunggu gejala memburuk sebelum mencari pertolongan.
Perhatikan juga tanda dehidrasi, seperti berkurangnya frekuensi buang air kecil, mulut kering, atau anak tampak sangat lemas. Jika muncul tanda tersebut, segera cari pertolongan medis.
Pada akhirnya, telur tetap dapat menjadi sumber gizi yang baik bagi anak. Namun, orang tua perlu mengutamakan cara pengolahan yang aman dan sesuai usia.
Melalui edukasi keamanan pangan, IDAI mengingatkan keluarga agar lebih cermat dalam memilih dan menyiapkan makanan bayi. Langkah sederhana seperti memasak telur hingga matang dapat membantu mengurangi risiko infeksi Salmonella.
“Baca Juga: SADARI untuk Deteksi Dini Kanker Payudara, Kapan Dilakukan?“