RS Satria Medika – Setiap 10 Oktober, masyarakat dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia atau World Mental Health Day. Peringatan ini mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental, mengurangi stigma, dan mendorong akses layanan kesehatan yang memadai.
Dalam momentum tersebut, masyarakat perlu memahami gangguan jiwa secara lebih menyeluruh. Gangguan jiwa tidak hanya berkaitan dengan pikiran atau perasaan. Kondisi ini juga dapat memengaruhi emosi, perilaku, hubungan sosial, dan aktivitas sehari-hari seseorang.
“Baca Juga: Gejala Skizofrenia: Bedakan Gangguan Mental dan Kesurupan“
1. Gangguan Jiwa Tidak Selalu Membuat Seseorang Kehilangan Realitas
dr. Elly Tania, Sp.KJ, dari RS Sumber Waras Jakarta menjelaskan bahwa masyarakat sering menyalahartikan gangguan jiwa. Banyak orang menganggap kondisi ini hanya terjadi ketika seseorang kesulitan membedakan fantasi dan kenyataan.
Padahal, gangguan mental memiliki cakupan yang lebih luas. Seseorang dapat mengalami depresi, kecemasan berlebihan, perubahan suasana hati, atau kesulitan mengendalikan perilaku tanpa kehilangan pemahaman terhadap realitas.
Dalam acara Morning Zone di kanal YouTube Okezone, dr. Elly menjelaskan peran otak dalam mengatur berbagai fungsi tubuh dan kondisi mental manusia.
Menurutnya, otak mengatur proses berpikir, emosi, perilaku, serta aktivitas sehari-hari. Otak juga membantu manusia menjalankan fungsi dasar, seperti makan, tidur, dan berinteraksi dengan orang lain.
“Gangguan jiwa itu adalah gangguan yang bermasalah pada daya nilai realita. Jadi dia tidak dapat menilai ini fantasi atau realita,” ujar dr. Elly.
Ia juga menekankan hubungan erat antara kesehatan mental dan kesehatan fisik. Keduanya saling berkaitan karena fungsi otak turut memengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Namun, masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua gangguan mental menunjukkan hilangnya kemampuan menilai realitas. Setiap kondisi memiliki gejala dan karakteristik yang berbeda.
2. Penyakit Fisik Bisa Memengaruhi Kesehatan Mental
Selain faktor psikologis, kondisi medis tertentu juga dapat memengaruhi fungsi otak dan kesehatan mental. Gangguan tersebut dapat mengubah cara seseorang berpikir, mengelola emosi, berbicara, atau berperilaku.
dr. Elly menjelaskan bahwa infeksi otak, stroke, perdarahan, tumor, dan gangguan metabolisme dapat mengganggu fungsi otak. Akibatnya, seseorang mungkin mengalami kebingungan atau perubahan perilaku.
“Ada sesuatu hal di otak yang mungkin mengakibatkan pikiran, emosi, perilaku, dan fungsi hidup kita jadi berubah,” jelasnya.
Meski demikian, masyarakat tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa setiap gangguan mental berasal dari penyakit fisik. Gangguan mental juga dapat melibatkan faktor genetik, pengalaman hidup, tekanan psikologis, lingkungan, dan kondisi sosial.
Karena itu, pemeriksaan tenaga kesehatan sangat penting ketika seseorang mengalami perubahan kondisi mental yang signifikan. Pemeriksaan membantu dokter mencari penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai.
Selain itu, masyarakat perlu memahami bahwa gejala mental dan fisik dapat saling memengaruhi. Oleh sebab itu, penanganan yang tepat perlu mempertimbangkan kondisi seseorang secara menyeluruh.
3. Hentikan Stigma terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa
Hari Kesehatan Mental Sedunia juga mengingatkan masyarakat agar memberikan dukungan kepada orang yang mengalami gangguan mental. Mereka membutuhkan kepedulian dan pertolongan, bukan penghakiman.
Sayangnya, sebagian orang masih menganggap gangguan jiwa sebagai tanda kelemahan atau kurangnya rasa syukur. Anggapan tersebut dapat membuat seseorang merasa malu dan enggan mencari bantuan profesional.
Padahal, gangguan mental merupakan persoalan kesehatan yang dapat membutuhkan bantuan psikolog atau psikiater. Dukungan keluarga, teman, sekolah, dan lingkungan kerja juga berperan penting dalam proses pemulihan.
Masyarakat dapat memulai langkah sederhana dengan mendengarkan tanpa menghakimi. Selain itu, kita dapat memberikan dukungan emosional dan mendorong orang terdekat mencari bantuan ketika mereka membutuhkannya.
Jika seseorang mengalami perubahan pikiran, emosi, atau perilaku yang menetap hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan tenaga profesional dapat membantu.
4. Jadikan Kesehatan Mental sebagai Prioritas
Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan perubahan kondisi emosional dan perilaku, baik pada diri sendiri maupun orang terdekat.
Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia menjadi kesempatan untuk memperluas pemahaman dan mengurangi stigma terhadap gangguan jiwa. Masyarakat juga perlu mendorong akses layanan kesehatan mental yang mudah dan terjangkau.
Dengan meningkatkan pengetahuan serta kepedulian, kita dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi orang yang menghadapi masalah mental. Langkah tersebut juga mendorong lebih banyak orang mencari pertolongan tanpa rasa takut atau malu.
“Baca Juga: Mengapa Nafsu Makan Hilang saat Sakit? Ini Penyebabnya“